Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
BERAU

Saat Keindahan Alam Berau Mulai Diubah Menjadi Kekuatan Ekonomi

Kompak.id, Berau – Keindahan alam Berau selama ini menjadi magnet bagi wisatawan. Laut biru, gugusan pulau, kekayaan bawah laut hingga kakao lokal merupakan potensi yang tidak hanya menawarkan pesona, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi bagi masyarakat.

Kini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mulai melihat potensi tersebut dari sudut pandang yang lebih luas. Pariwisata tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai sektor pendukung, melainkan diarahkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru daerah.

Arah tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata Tahun 2026 di Gedung RPJPD Bapperida Berau, Rabu (12/8/2026).

Di tengah tantangan fiskal dan kebutuhan diversifikasi sumber pendapatan daerah, pariwisata dinilai memiliki ruang besar untuk tumbuh. Apalagi sektor ini telah ditetapkan sebagai salah satu sektor unggulan dalam RPJMD Kabupaten Berau 2025-2029.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menilai, perubahan cara pandang menjadi langkah penting. Menurutnya, potensi pariwisata harus dikelola secara serius, terintegrasi, dan melibatkan seluruh perangkat daerah.

“Sekarang kita harus mulai mengubah cara pandang. Pariwisata tidak boleh hanya menjadi kegiatan pendukung, tetapi harus dikelola sebagai sektor yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi daerah dan masyarakat,” kata Sri.

Berau memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun, selama ini perekonomian daerah masih cukup bergantung pada sektor pertambangan dan dana transfer.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus momentum bagi pemerintah daerah untuk mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Sri menyebut Bali dan Yogyakarta sebagai contoh daerah yang berhasil mengembangkan pariwisata menjadi penggerak ekonomi. Keberhasilan itu, menurutnya, tidak lahir secara instan, tetapi melalui pengelolaan yang konsisten dan terintegrasi dengan sektor lainnya.

Maratua dengan kekayaan bawah lautnya, Kakaban dengan fenomena ubur-ubur tidak menyengat, serta berbagai destinasi alam lainnya menjadi aset yang dapat dikembangkan untuk memperkuat daya saing pariwisata daerah.

“Berau memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana potensi itu kita kelola dengan serius, sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat secara luas,” ujarnya.

Namun, membangun pariwisata tidak hanya berbicara tentang destinasi dan jumlah wisatawan.

Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana menjaga keindahan yang menjadi alasan wisatawan datang.

Bagi Sri, kebersihan kawasan wisata merupakan bagian dari wajah pariwisata Berau. Destinasi yang indah akan kehilangan daya tarik apabila tidak dibarengi dengan lingkungan yang bersih dan terawat.

“Jangan sampai kita memiliki destinasi yang indah, tetapi persoalan sampah justru mengurangi daya tariknya. Kebersihan harus menjadi kebiasaan bersama, bukan hanya tugas petugas kebersihan,” tegasnya.

Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata membutuhkan perubahan perilaku. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Masyarakat, pelaku usaha, wisatawan hingga komunitas harus memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga lingkungan.

Sebab, semakin banyak wisatawan datang, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan destinasi tetap lestari.

Di balik kunjungan wisatawan, terdapat peluang untuk menggerakkan usaha masyarakat. Produk lokal, ekonomi kreatif, kuliner hingga komoditas unggulan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Kakao Berau menjadi salah satu potensi yang mendapat perhatian.

Produk olahan kakao, termasuk cokelat lokal, dinilai memiliki peluang untuk menjadi bagian dari identitas pariwisata Berau. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati alam, tetapi juga mengenal produk dan cita rasa yang lahir dari daerah tersebut.

“Produk lokal seperti cokelat Berau memiliki kualitas dan sudah mendapatkan pengakuan. Ini harus kita dorong agar menjadi bagian dari identitas pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” jelas Sri.

Jika dikembangkan secara konsisten, rantai ekonomi pariwisata dapat menjadi semakin panjang. Wisatawan datang menikmati destinasi, kemudian menggunakan jasa masyarakat lokal, membeli produk UMKM, menikmati kuliner daerah, hingga membawa pulang oleh-oleh khas Berau.

Di titik inilah pariwisata tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.

Di tengah peluang tersebut, kualitas sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.

Berau membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memahami potensi daerahnya, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan wisatawan dari berbagai negara.

Penguasaan bahasa asing menjadi salah satu kemampuan yang didorong pemerintah. Pelayanan yang baik, keramahan dan kemampuan berkomunikasi dinilai dapat menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun citra destinasi.

Sebab, pengalaman wisatawan tidak hanya ditentukan oleh pemandangan yang mereka lihat, tetapi juga oleh bagaimana mereka diperlakukan selama berada di sebuah daerah.

“Kalau masyarakat kita ramah, mampu berkomunikasi dan lingkungan tetap terjaga, wisatawan akan mendapatkan kesan positif,” kata Sri.

Pada akhirnya, masa depan pariwisata Berau tidak hanya bergantung pada pemerintah.

Ada perangkat daerah yang harus bergerak bersama, masyarakat yang menjaga lingkungan, pelaku usaha yang mengembangkan produk lokal, generasi muda yang meningkatkan keterampilan, serta komunitas yang ikut mempromosikan destinasi.

Karena itu, pengembangan pariwisata Berau membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

Harapannya, kekayaan alam Berau tidak hanya menjadi cerita tentang indahnya destinasi, tetapi berubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pariwisata pun akhirnya bukan sekadar tentang mengundang orang datang.

Lebih dari itu, pariwisata adalah tentang bagaimana menjaga alam, menghidupkan ekonomi lokal, memperkuat identitas daerah, dan memastikan keindahan Berau tetap dapat dinikmati generasi yang akan datang.

Dengan konsep itulah, Berau sedang menatap masa depan: merawat alam, menggerakkan ekonomi, dan menjadikan pariwisata sebagai kekuatan baru daerah. (Mit/Oke)

Related posts