Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
BERITA UTAMA

Guidewire Tertinggal di Jantung, Dewas RSUD AWS Sebut Belum Terbukti Malapraktik

Kompak.id, Samarinda – Kasus guidewire atau kawat medis yang disebut tertinggal di jantung pasien Ediyanto Wong setelah menjalani tindakan medis di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda belum dapat dinyatakan sebagai malapraktik.

Ketua Dewan Pengawas (Dewas) RSUD AWS Samarinda, Syahrir Pasinringi, mengatakan dugaan kelalaian medis harus dibuktikan melalui mekanisme profesi dan melibatkan dokter spesialis yang memiliki kompetensi di bidang terkait.

Pernyataan tersebut disampaikan Syahrir usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Selasa (29/9/2026). Rapat digelar untuk meminta penjelasan pihak-pihak terkait mengenai kasus yang dialami Ediyanto Wong.

“Masalah medis itu tidak bisa dijelaskan lewat orang yang awam. Pengertian malapraktik atau kelalaian medis tidak bisa dibuktikan kecuali lewat majelis dan kumpulan ahli dokter spesialis jantung,” kata Syahrir.

Kasus ini bermula ketika Ediyanto Wong menjalani tindakan pemasangan ring jantung di RSUD AWS pada Februari 2026. Keluarga pasien kemudian menyebut keberadaan guidewire diketahui saat EW menjalani kateterisasi ulang di Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura, pada 22 Februari 2026.

Menurut keluarga, dokter di Singapura menyampaikan bahwa benda tersebut merupakan guidewire yang tertinggal dari tindakan medis sebelumnya dan tidak dapat diambil kembali.

Namun, Syahrir menegaskan pihak rumah sakit belum dapat menyimpulkan telah terjadi kesalahan medis sebelum ada hasil pemeriksaan dan penilaian dari pihak yang memiliki kewenangan serta kompetensi.

Ia juga mengatakan rumah sakit tidak dapat langsung memberikan sanksi kepada dokter yang menangani pasien tanpa adanya dasar hukum yang menyatakan telah terjadi pelanggaran.

“Kita harus memberi sanksi harus ada dasar hukum kesalahannya. Enggak bisa,” ujarnya.

Syahrir menjelaskan kondisi Ediyanto Wong ketika menjalani tindakan medis di RSUD AWS. Menurutnya, pasien sebelumnya memiliki riwayat pemasangan ring di Singapura dan menjalani cuci darah di RSUD AWS.

Saat menjalani perawatan tersebut, pasien disebut mengalami serangan jantung sehingga membutuhkan tindakan medis segera.

“Pasien itu memang pasien dari Singapura dan sudah pasang cincin sebelumnya di Singapura dan dia cuci darah. Kebetulan saja dia ada di rumah sakit itu cuci darah, kena serangan jantung,” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, menurut Syahrir, dokter harus mengutamakan keselamatan pasien. Terkait guidewire yang disebut putus dan tertinggal di jantung, ia mengatakan masih diperlukan penjelasan medis untuk memastikan apakah keberadaan benda tersebut berkaitan langsung dengan keluhan yang dialami pasien.

“Kami tidak bisa pastikan yang satu itu , apakah yang dipasang itu yang membuat dia sakit. Belum tentu. Bisa saja yang lain,”  katanya.

Syahrir juga menanggapi informasi mengenai guidewire yang disebut sengaja dibiarkan berada di dalam tubuh pasien. Menurutnya, berdasarkan penjelasan dr MF, keputusan tersebut berkaitan dengan kondisi pasien dan upaya penyelamatan nyawa.

“Menurut dr. MF salah satu untuk menyelamatkan nyawa,” ujarnya.

Meski demikian, Syahrir tidak menjelaskan secara teknis prosedur tersebut. Ia menegaskan aspek medis terkait tindakan jantung harus diterangkan oleh dokter spesialis yang memiliki kompetensi.

Menurut Syahrir, penjelasan dari ahli diperlukan agar persoalan tersebut tidak dinilai hanya berdasarkan asumsi atau pemahaman pihak yang tidak memiliki kompetensi medis.

Syahrir juga menyampaikan RSUD AWS telah menjalani audit oleh Kementerian Kesehatan. Menurutnya, audit tersebut tidak menemukan masalah yang berkaitan dengan pelayanan rumah sakit, meskipun terdapat sejumlah standar operasional prosedur (SOP) yang masih perlu disempurnakan.

“Internal audit-nya sudah oleh Kemenkes, tidak ada masalah. Cuma ada beberapa SOP yang perlu kita sempurnakan dan itu biasa dalam rumah sakit,” terangnya Pungkasnya. (Oke)

Related posts