Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
BERITA UTAMA NASIONAL

Pameran Tunggal Cadio Tarompo Disambut Ratusan Pengunjung, Angkat Jejak 55 Tahun dalam Karya

Kompak.id, Samarinda – Pameran tunggal perupa senior Kalimantan Timur (Kaltim), Cadio Tarompo, mendapat sambutan dari masyarakat. Pameran bertajuk “Jejak Waktu Perjalanan 55 Tahun Karya Cadio Tarompo” yang terselenggara di Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim tersebut menampilkan 55 karya yang merekam perjalanan Cadio dalam mengolah pengalaman dan ingatan menjadi karya seni.

Pameran ini digelar melalui program Fasilitasi Kemajuan Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan. Cadio mengajukan program tersebut secara perorangan dan kemudian mengembangkan konsep pameran tunggal yang tidak hanya menampilkan karya terbaru, tetapi juga menghadirkan kembali memori dari berbagai fase kehidupannya.

“Konsepnya itu Jejak Waktu Perjalanan 55 Tahun karya Cadio Tarompo. Bukan artinya karya di situ saya 50 tahun berkarya, tapi karya itu bisa lahir di dalam ingatan kita. Misalnya kita usia 5 tahun, itu bisa kita ungkit lagi memori itu menjadi sebuah karya,” kata Cadio, Minggu (27/9/2026).

Salah satu hal yang menonjol dalam pameran tersebut adalah penggunaan teknik warna negatif pada sejumlah lukisan. Cadio mengatakan, gagasan tersebut pertama kali muncul pada 2004 ketika ia menggunakan telepon seluler yang memiliki fitur kamera dengan mode negatif. Ide tersebut kemudian ia terapkan dalam karya, termasuk saat melukis peristiwa tsunami Aceh pada 2004.

“Warna positif foto kita lukis ke kanvas, ketika dishoot hasilnya akan jadi positif. Saya angkat waktu itu lukisan pertama saya waktu ada bencana di Aceh, tsunami Aceh. Tahun 2004 akhir Desember, saya ngelukis 2005 mulai,” ujarnya.

Menurut Cadio, teknik tersebut memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibandingkan lukisan dengan warna normal. Perupa harus menggunakan aplikasi atau kamera dengan mode negatif untuk memastikan warna yang dituangkan ke kanvas sesuai dengan hasil yang diharapkan. Perbedaan sedikit pada warna dapat memengaruhi hasil akhir lukisan.

“Lebih susah. Karena selisih sedikit saja warnanya itu bisa berubah warna,” katanya.

Selain mengangkat perjalanan berkarya, Cadio juga menampilkan lukisan tokoh, termasuk Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud dan beberapa tokoh nasional lainnya. Ia menyebut lukisan tokoh merupakan bagian dari ketertarikannya merekam sosok yang dianggap memiliki posisi penting di tingkat daerah maupun nasional melalui karya seni rupa.

Lukisan Negatif Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud

Pameran yang dibuka pada 27 Juli 2026, bertepatan dengan ulang tahun Cadio yang ke-55, dijadwalkan berlangsung hingga 30 September 2026. Sebanyak 55 karya dipajang, termasuk karya lama yang masih tersimpan sejak 1993 ketika Cadio mulai serius menekuni seni lukis.

Animo pengunjung kemudian menjadi salah satu hal yang menonjol selama pelaksanaan pameran. Menurut Cadio, jumlah pengunjung meningkat setelah pameran mulai ramai dibicarakan di media sosial. Pada pekan keempat hingga keenam, jumlah pengunjung disebut mencapai sekitar 400 hingga 600 orang per hari.

“Di minggu ketiga itu sudah mulai viral di media sosial dan minggu keempat sampai keenam itu membludak pengunjung bisa mencapai 400 sampai 600 pengunjung per hari,” ungkapnya.

Sementara itu fasilitator pameran melalui Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim, Lestari, mengatakan pihaknya memberikan fasilitasi karena seni rupa merupakan bagian dari kebudayaan. Menurutnya, ruang publik bagi perupa di Kalimantan Timur masih terbatas sehingga pemanfaatan ruang yang tersedia menjadi salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap karya seni.

“Karena seni rupa adalah bagian dari kebudayaan. Jadi, fungsinya negara itu salah satunya adalah memfasilitasi terhadap pelaku budaya, khususnya pelaku budaya seni rupa,” kata Lestari.

Ia mengatakan tingginya antusiasme masyarakat, terutama kalangan anak muda yang meminati Pameran Cadio Tarompo, menjadi salah satu alasan pameran diperpanjang hingga dua bulan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketertarikan generasi muda terhadap karya seni dan kebudayaan di lingkungan mereka.

“Kita sangat senang sih dengan respon generasi muda kita yang ternyata cukup meminati seni, juga apresiasi ke Pak Cadio karena berhasil membuat karya yang mampu masum ke lintas generasi,” lanjutnya.

Salah satu pengunjung, Risna, yang datang bersama Septi, mengaku baru pertama kali mengunjungi Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur. Ia menilai keberadaan pameran seni rupa memberikan pengalaman baru karena ruang untuk menikmati karya seni secara langsung masih terbatas.

“Senang banget karena kita tuh kayak haus pengalaman. Soalnya kan di sini jarang banget diadakan yang kayak gini-gini. Apalagi pameran-pameran tunggal seperti ini cukup bawa pengetahuan baru tentang seni,” tuturnya.

Dari puluhan karya yang dipamerkan, Risna mengaku tertarik pada lukisan berjudul “Kurang Empati”. Menurutnya, karya tersebut menggambarkan ironi ketika seseorang memberikan makanan kepada sejumlah anjing, sementara di sisi lain terdapat manusia yang digambarkan dalam kondisi kelaparan.

“Ada makna yang terkandung di dalam lukisan itu. Yang paling bagi saya ngena di situ adalah Kurang Empati,” tutupnya. (Ain)

Related posts