Kompak.id, Samarinda – Kondisi Pasar Pagi Samarinda setelah revitalisasi menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda. Penataan fisik yang lebih modern dinilai perlu diikuti pembenahan fungsi dan pengelolaan agar kembali menarik masyarakat dan mampu mendukung aktivitas perdagangan para pedagang.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan konsep baru Pasar Pagi tetap harus menempatkan fungsi pasar sebagai kebutuhan utama masyarakat. Perubahan menjadi lebih modern tidak boleh membuat fungsi perdagangan justru kehilangan daya tarik.
Menurut Deni, salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah rebranding untuk membangun kembali daya tarik Pasar Pagi di tengah masyarakat.
“Yang pertama adalah bagaimana magnet Pasar Pagi ini bisa menarik masyarakat untuk datang lagi, artinya sama seperti sebelum dilakukan revitalisasi. Salah satu langkahnya mungkin ada rebranding, bisa jadi juga,” kata Deni, Rabu (23/9/2026)
Selain rebranding, penataan ruang di dalam bangunan juga dinilai perlu diperhatikan. Pembagian fungsi setiap lantai dan los harus dibuat lebih jelas sehingga masyarakat mengetahui jenis perdagangan yang tersedia ketika datang ke Pasar Pagi.
“Misalnya penataan ulang los-los yang ada. Selama ini los satu, lantai satu, lantai dua digunakan untuk apa, lantai tiga tempatnya apa,” ujarnya.
Deni mengatakan persoalan tersebut menjadi ranah Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perdagangan bersama Komisi II DPRD yang memiliki mitra kerja di bidang tersebut. Sementara Komisi III lebih berkaitan dengan aspek pembangunan dan fasilitas.
Ia juga menyinggung rencana penyediaan eskalator sebagai salah satu fasilitas yang dapat mempermudah akses pengunjung. Menurutnya, keluhan masyarakat mengenai penggunaan tangga perlu menjadi bagian dari evaluasi fasilitas Pasar Pagi.
“Memang ada rencana mau bangun eskalator. Mungkin salah satunya itu. Selama ini masyarakat mengeluhkan penggunaan tangga, dan eskalator itu ada di belakang, jauh,” jelas Deni.
Di sisi lain, Deni mengakui kondisi perdagangan di Pasar Pagi saat ini berbeda dibandingkan sebelum revitalisasi. Ia menyebut keluhan pedagang mengenai tingkat penjualan menjadi salah satu persoalan yang perlu dicari solusinya.
“Kalau saya pribadi, kemarin juga sempat menyampaikan bahwa saat ini kondisi Pasar Pagi setelah dibangun memang berbeda jauh dari tingkat penjualan. Artinya, pedagang-pedagang banyak yang mengeluh,” ungkapnya.
Menurutnya, konsep pasar modern tetap memungkinkan diterapkan sepanjang tidak menghilangkan fungsi utama Pasar Pagi sebagai tempat masyarakat memenuhi kebutuhan. Pemerintah dan pedagang perlu menemukan titik temu mengenai konsep dan pengelolaannya.
“Kalau konsepnya pasar modern, pastinya konsep modern yang dibawa, tapi tidak mengurangi fungsi yang ada. Itu poinnya,” tegas Deni.
Ia berharap penataan Pasar Pagi ke depan tidak hanya berorientasi pada bangunan, tetapi juga pada bagaimana fasilitas tersebut dapat kembali hidup sebagai pusat perdagangan. Pemerintah, DPRD dan pedagang dinilai perlu duduk bersama untuk merumuskan pola pengelolaan yang sesuai.
“Artinya, itu nanti bisa menjadi formula yang akan dilaksanakan untuk menata Pasar Pagi,” pungkasnya. (Adv/Ain/DPRDSamarinda)
