Kompak.id, Nusantara – Rasa syukur atas nikmat Allah SWT tidak cukup diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk menghindari pemborosan dan menggunakan sumber daya secara bijaksana.
Pesan tersebut disampaikan Dr. H. Rusdi Abdullah, M.S.I., dosen tetap Program Doktor (S-3) Studi Islam UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, dalam pengajian rutin bulanan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bertema “Be Grateful, No Wasteful: Bersyukur dengan Tidak Berperilaku Boros” di Kantor Otorita IKN, Nusantara, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono bersama jajaran pimpinan, pegawai, dan mitra kerja.
Rusdi menjelaskan, setiap nikmat yang diberikan Allah SWT merupakan amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Karena itu, sikap bersyukur perlu diwujudkan melalui cara seseorang menggunakan harta, waktu, tenaga, pangan, air, hingga berbagai fasilitas yang tersedia.
“Rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Syukur juga harus tercermin dalam bagaimana kita menggunakan nikmat yang telah diberikan Allah SWT,” ujarnya.
Ia menegaskan, Islam mengajarkan umatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup secara seimbang, tanpa berlebihan maupun menyia-nyiakan nikmat yang telah diberikan.
Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 31 yang artinya, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
Menurut Rusdi, ajaran tersebut menjadi pengingat bahwa perilaku hemat bukan berarti mengabaikan kebutuhan yang layak. Sebaliknya, sikap tersebut mencerminkan kemampuan seseorang dalam membedakan kebutuhan dan keinginan serta memanfaatkan sumber daya sesuai manfaatnya.
“Bersikap hemat bukan berarti kita tidak boleh memenuhi kebutuhan. Namun, bagaimana kita menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan,” jelasnya.

Nilai ini juga dinilai relevan dalam membangun budaya kerja di lingkungan Otorita IKN. Rusdi menekankan pentingnya menanamkan kebiasaan sederhana yang mencerminkan rasa syukur, seperti menggunakan air dan listrik seperlunya, mengurangi sisa makanan, menjaga kebersihan lingkungan, serta memanfaatkan fasilitas kantor secara bijak.
“Hal-hal sederhana seperti tidak membuang makanan, menggunakan air dan listrik seperlunya, serta menjaga fasilitas yang ada merupakan bentuk nyata dari rasa syukur,” tuturnya.
Dalam konteks pembangunan IKN, penguatan karakter sumber daya manusia menjadi bagian penting yang berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur dan tata kelola pemerintahan.
Integritas, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan perlu menjadi bagian dari keseharian pegawai agar pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan fisik, tetapi juga membentuk budaya kerja yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Melalui pengajian rutin tersebut, Rusdi mengajak seluruh pegawai Otorita IKN menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
“Bersyukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menjaga nikmat agar tidak disia-siakan dan menggunakannya secara bertanggung jawab,” pungkasnya. (Ain)
