Kompak.id, Samarinda – Kebutuhan tenaga pendidik di Kota Samarinda masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Pemerintah daerah disebut menghadapi kekurangan sekitar 500 guru di tengah jumlah tenaga pendidik yang terus berkurang akibat memasuki masa pensiun.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, mengatakan persoalan tersebut perlu dilihat sebagai kebutuhan mendesak karena keberadaan guru berkaitan langsung dengan keberlangsungan proses pendidikan di sekolah.
Ia menyebut, dalam setiap tahunnya terdapat ratusan guru di Samarinda yang memasuki masa pensiun. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap tenaga pendidik baru harus segera diantisipasi agar tidak terjadi kekosongan di sekolah.
“Guru kita dalam satu tahun itu ada sekian ratus yang pensiun. Data terakhir yang disampaikan Dinas Pendidikan Kota Samarinda, kita kekurangan sekitar 500-an guru,” kata Ismail, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, persoalan kekurangan guru tidak bisa hanya dilihat dari jumlah tenaga pendidik secara keseluruhan. Sebab, setiap guru memiliki tugas dan posisi yang berbeda, termasuk guru kelas yang menjadi pengampu utama peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Ismail menilai kekosongan satu posisi guru kelas dapat memberikan dampak langsung terhadap siswa apabila tidak segera mendapatkan pengganti. Terlebih, kekurangan tersebut bukan hanya terjadi dalam waktu singkat, melainkan dapat berlangsung sepanjang proses pembelajaran.
“Bayangkan kalau seandainya guru kelas tidak ada, pensiun belum ada penggantinya. Berarti siswa ini dalam satu hari langsung tidak ada guru yang mengampu,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak berhenti pada guru kelas. Kebutuhan tenaga pendidik juga mencakup guru mata pelajaran yang memiliki fungsi berbeda dalam menunjang proses belajar mengajar di sekolah.
Karena itu, Ismail mendorong pemerintah untuk melihat kebutuhan guru sebagai persoalan yang harus segera ditangani. Menurutnya, pemenuhan tenaga pendidik perlu disesuaikan dengan kebutuhan riil sekolah agar kekurangan guru tidak berujung pada terganggunya layanan pendidikan.
“Ini bukan cuma satu hari, setiap hari. Karena dia guru kelas, belum lagi guru mata pelajaran,” tegasnya.
Ismail menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi terhadap guru yang memasuki masa pensiun sekaligus menghitung kebutuhan tenaga pendidik berdasarkan kondisi masing-masing sekolah. Dengan demikian, proses regenerasi guru dapat berjalan dan kekosongan pengajar dapat diminimalkan.
Ia menegaskan, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah tenaga kerja, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kualitas pendidikan di Samarinda.
“Semakin cepat kebutuhan guru dipenuhi, semakin kecil potensi terganggunya proses pembelajaran siswa di sekolah,” pungkas Ismail. (Adv/Ain/DPRDSamarinda)
