Kompak.id, Samarinda – Penguatan pendidikan antinarkoba di Kota Samarinda masih menghadapi persoalan pada pola penyampaian materi di lingkungan sekolah. Edukasi mengenai bahaya narkotika selama ini belum menjadi satu materi pembelajaran khusus, melainkan tersebar di sejumlah mata pelajaran.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena pendidikan merupakan salah satu jalur penting dalam membangun pencegahan sejak usia dini.
“Selama ini ternyata kurikulumnya sudah ada, tapi tidak secara satu pendidikan tentang narkotika. Masuk ke mata pelajaran kesehatan, Biologi, PPKN, PJOK dan lain sebagainya,” kata Sri, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, materi yang tersebar di sejumlah mata pelajaran sebenarnya dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan. Namun, perlu ada penguatan agar pesan yang diberikan kepada peserta didik lebih terarah dan tidak berhenti pada penyampaian materi secara parsial.
Sri menilai pendekatan pendidikan antinarkoba harus disesuaikan dengan kondisi sekolah dan jenjang pendidikan. Pencegahan tidak harus selalu diwujudkan melalui pembentukan mata pelajaran baru yang berpotensi menambah beban pembelajaran.
“Kita ingin mengoptimalkan bagaimana tugas dan kewenangan Dinas Pendidikan, termasuk kaitannya dengan kurikulum. Jangan sampai kita membuat sesuatu yang baru tetapi kemudian menambah persoalan di sekolah,” ujarnya.
Ia menyebut kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi salah satu ruang yang dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan antinarkoba. Dengan pendekatan tersebut, edukasi dapat diberikan di luar pembelajaran utama tanpa harus menambah mata pelajaran baru.
“Kita ingin mengintegrasikan atau memasukkan ke dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, supaya pendidikan atau pencegahan terhadap narkotika yang ada di Kota Samarinda ini bisa kita cegah,” katanya.
Menurut Sri, langkah pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan mengingat persoalan narkotika telah menjadi persoalan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Sekolah menjadi salah satu lingkungan yang dinilai penting untuk memperkuat pemahaman peserta didik.
Ia berharap penguatan materi antinarkoba tidak hanya berbentuk sosialisasi sesaat, tetapi terintegrasi dengan kegiatan pendidikan yang sudah berjalan.
“Dengan begitu, sekolah dapat menjadi salah satu benteng pencegahan penyalahgunaan narkotika sejak dini,” pungkasnya. (Adv/Ain/DPRDSamarinda)
