Kompak.id, Samarinda – Upaya mendorong digitalisasi pendidikan di Kota Samarinda masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan fasilitas dan kemampuan tenaga pengajar menjadi hambatan utama dalam penerapan pembelajaran berbasis teknologi.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, mengungkapkan bahwa program pendidikan digital sebenarnya sudah mulai berjalan sejak tahun lalu.
“Ini sudah masuk tahun kedua pelaksanaannya, jadi sebenarnya sudah berjalan, tapi memang ada beberapa kendala,” ujarnya, Rabu (6/5/2026)
Ia menjelaskan, dua persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah kelengkapan sarana prasarana serta kesiapan tenaga pengajar.
Menurut Novan, dari sisi fasilitas, sebagian sekolah masih mengandalkan perangkat sederhana seperti telepon genggam dan jaringan internet yang terbatas.
“Kalau sarana mungkin masih bisa pakai handphone, tapi tetap terbatas. Idealnya tentu harus ada perangkat yang lebih memadai,” jelasnya.
Namun, tantangan terbesar justru terletak pada kompetensi guru dalam mengajarkan materi berbasis teknologi seperti coding dan kecerdasan buatan (AI).
Ia menegaskan bahwa tanpa pemahaman yang cukup dari tenaga pengajar, proses pembelajaran tidak akan berjalan efektif.
“Coding itu kan bicara algoritma, bahasa komputer. Kalau gurunya tidak paham, tentu tidak bisa diajarkan dengan baik,” katanya.
Kondisi ini membuat implementasi digitalisasi pendidikan berjalan tidak merata di setiap sekolah.
Novan menilai, perlu adanya langkah konkret dari pemerintah untuk meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan yang berkelanjutan.
“Ini yang harus dikejar, supaya program digitalisasi pendidikan tidak hanya jadi wacana, tapi benar-benar bisa diterapkan secara maksimal,” pungkasnya (Adv/Ain/DPRDSamarinda)
