Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
ADVERTORIAL DINAS PENDIDIKAN KALTIM PENDIDIKAN

SMAN 2 Balikpapan dan Kemenag Evaluasi Ujian PAI

Monitoring dan evaluasi pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMAN 2 Balikpapan, Senin (14/03/2022).

Kompak.id, Balikpapan – Kepala SMAN 2 Balikpapan Ririen Friedayati bersama Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan melalui Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Sartono  melakukan Monitoring dan evaluasi pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diadakan secara luring di SMAN 2 Balikpapan, Senin (14/03/2022).

Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam, Sartono dalam arahannya menyampaikan, walau pelaksanaan US kali ini sepenuhnya menjadi otoritas sekolah, tapi pelaksanaanya tetap dilaksanakan sesuai dengan juknis yang telah dikeluarkan dan tetap mengacu kepada protokol kesehatan Covid-19.

“Pembuatan soal maupun metode yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di sekolah. Sebagian sekolah menggunakan sistem paper and pencil, sebagian menggunakan computer based dan beberapa menggunakan Android based.” ujar Sartono.

Lebih lanjut, ia mengtakan, mapel PAI merupakan salah satu mata studi yang diujikan dari beberapa mapel tingkat SMA.

“Mata Pelajaran PAI merupakan salah satu Mapel wajib yang diujikan. Karena Pendidikan Agama merupakan bidang studi yang membentuk karakter siswa untuk berakhlakul karimah,” imbuhnya.

BACA JUGA :  Agar Kasus Pelecehan Tak Terulang, Ketua Komisi IV Ingatkan Ini

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Balikpapan Ririen Friedayati menyampaikan terima kasih atas kehadiran Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan. Ia mengatakan, pelaksanaan Ujian Sekolah di SMAN 2 Balikpapan selalu menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

“Dalam pelaksanaan ujian sekolah ini siswa dan siswi serta guru selalu mematuhi protokol kesehatan, tetap melaksanakan 5 M yakni memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjahui kerumunan dan serta membatasi mobilitas dan interaksi,” ujar Ririen Friedayati. (Adv/hms)

Facebook Comments Box

Related posts