Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
KONI KALTIM

KONI Kaltim Bahas Persiapan Kualifikasi PON 2028 dengan Gubernur

Kompak.id, Samarinda – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur mulai mematangkan strategi pembinaan atlet menghadapi rangkaian kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Persiapan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam audiensi jajaran KONI Kaltim bersama Gubernur Kaltim H Rudi Mas’ud di Kantor Gubernur Kaltim, kemarin.

Pertemuan itu turut dihadiri Asisten I Pemprov Kaltim M. Fitra Firnanda ST, Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim Rasman Rading, Ketua Umum KONI Kaltim H Anderiy Syachrum ST, Ketua Harian KONI Kaltim Nidya Listiyono, serta Bendahara Umum KONI Kaltim Siti Astridya.

Audiensi tersebut menjadi ruang bagi KONI Kaltim untuk menyampaikan sejumlah agenda pembinaan olahraga kepada pemerintah provinsi. Selain membahas penyelenggaraan event olahraga daerah, pertemuan juga menyoroti dukungan terhadap atlet dan cabang olahraga yang akan menghadapi babak kualifikasi PON 2028 tahun depan.

Gubernur Kaltim, H Rudi Mas’ud menekankan pentingnya inovasi pembiayaan dalam penyelenggaraan kegiatan olahraga. Ia mendorong agar KONI maupun penyelenggara event dapat melibatkan sektor swasta dan pihak ketiga melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Menurut Rudi, keterlibatan pihak swasta diperlukan agar pembiayaan kegiatan olahraga tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Terlebih, kondisi fiskal daerah membuat pemerintah harus memprioritaskan anggaran untuk kebutuhan dasar masyarakat.

“Untuk prestasi kita oke, tapi jangan lupa setiap anggaran yang digunakan harus dipertanggungjawabkan dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).

Meski demikian, Rudi menegaskan bahwa keterbatasan fiskal tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan target prestasi olahraga Kaltim. Ia tetap mendorong agar atlet-atlet daerah mampu bersaing dan meraih prestasi terbaik, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Namun, target prestasi tersebut harus dibarengi dengan tata kelola organisasi yang baik. Menurutnya, pengelolaan anggaran olahraga harus dilakukan secara akuntabel, transparan, dan profesional.

“Jangan sampai kita dapat prestasi, tapi ujungnya menyisakan masalah. KONI, tata kelola keuangannya harus akuntabel, transparan, dan profesional. Jangan sampai atletnya naik podium, tapi integritas dan administrasinya turun,” tegasnya.

Ketua Umum KONI Kaltim H Anderiy Syachrum menyambut positif arahan tersebut. Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pembinaan olahraga tetap dibutuhkan, terutama dalam menghadapi rangkaian kualifikasi menuju PON 2028.

Anderiy menyebut kondisi fiskal daerah saat ini membuat KONI harus mencari pola baru agar pembinaan atlet tetap berjalan. Karena itu, keterlibatan mitra pemerintah dari sektor swasta dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga kesinambungan program pembinaan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur yang sudah membuka ruang kepada mitra-mitra pemerintah agar bisa bergandengan tangan membantu pembinaan atlet-atlet kita,” ungkapnya.

Menurut Anderiy, ruang kerja sama tersebut sekaligus mendorong KONI Kaltim untuk lebih kreatif dalam mengelola berbagai potensi yang dimiliki. Pihaknya kini mulai memikirkan sejumlah inovasi yang dapat menghasilkan pendapatan untuk membantu pembiayaan cabang olahraga.

Pendapatan tersebut nantinya diharapkan dapat mendukung kebutuhan pembinaan, sehingga atlet memiliki kesempatan untuk menjalani latihan secara berkelanjutan dan tidak terganggu persoalan pembiayaan.

Selain persiapan menuju PON 2028, KONI Kaltim juga menyampaikan wacana perubahan pola penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Jika selama ini Porprov digelar empat tahun sekali, ke depan KONI mempertimbangkan pelaksanaannya setiap dua tahun.

Anderiy menilai perubahan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi menjaga kesinambungan pembinaan atlet. Porprov juga dapat difungsikan sebagai sarana evaluasi kemampuan atlet daerah sebelum menghadapi kompetisi yang lebih tinggi, termasuk PON.

“Saat ini sudah ada dua daerah yang melaksanakan Porprov setiap dua tahun sekali, yakni Jawa Timur dan Jawa Barat. Tujuannya untuk menjaga kesinambungan pembinaan atlet agar tetap semangat dan venue tetap terawat,” jelas Anderiy.

Dengan pola tersebut, KONI Kaltim berharap pembinaan atlet tidak hanya berjalan menjelang event besar. Kompetisi yang lebih rutin dinilai dapat memberikan ruang evaluasi secara berkala sekaligus menjaga kesiapan atlet dan keberlanjutan pemanfaatan fasilitas olahraga di daerah.

Audiensi dengan Gubernur Kaltim ini pun menjadi bagian dari upaya KONI Kaltim menyusun langkah pembinaan yang lebih adaptif di tengah keterbatasan anggaran, tanpa mengurangi target prestasi Kaltim menuju PON 2028.

Related posts