Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
SEPUTAR KALTIM UMUM

Mohammad Djailani, Wajah Baru Stok Lama KAHMI Kaltim

Kompak.id, Samarinda – Ada sesuatu yang menarik dari wajah baru Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Kalimantan Timur periode 2026-2031. Tujuh nama yang kini duduk sebagai Presidium bukan sekadar hasil pergantian kepengurusan lima tahunan. Komposisi itu seperti sedang memperlihatkan sebuah organisasi yang ingin membaca ulang dirinya sendiri, tentang dari mana ia datang, siapa yang sedang berjalan, dan ke mana KAHMI Kaltim hendak membawa langkahnya.

Musyawarah Wilayah (Muswil) Ke-VII Korps Alumni HMI (KAHMI) Kaltim dan Ke-IV Forum Alumni HMI-Wati (Forhati) Kaltim yang digelar 26 September 2026 telah menuntaskan amanah organisasinya. Selain mengesahkan sejumlah agenda organisasi, program dan rekomendasi, forum tersebut melalui proses musyawarah yang panjang dan berjenjang menetapkan tujuh Presidium KAHMI Kaltim untuk lima tahun mendatang. Mereka adalah Prof. Aswin, Mohammad Djailani, Mudiyat Noor, Marwan, Abrianto Amin, Murjani Zuhri dan Sigit Wibowo.

Tujuh nama itu membawa latar dan pengalaman yang berbeda. Ada wajah yang telah lama dikenal dalam perjalanan KAHMI Kaltim, ada pula nama yang secara organisasi mungkin terasa baru di panggung presidium. Namun, menariknya, salah satu wajah baru itu justru datang dari generasi senior. Ialah Mohammad Djailani, Sosok yang pernah berada di lingkungan eksekutif pemerintahan pusat maupun daerah tersebut memilih kembali masuk ke ruang yang dahulu membentuk dirinya, ruang kader dan persaudaraan alumni HMI.

Presidium MW KAHMI Kaltim 2026-2031

Ketika pimpinan sidang yang dipimpin Rudiansyah, mantan komisioner KPU Kaltim, menanyakan kesiapan dan kesediaannya sebelum proses pemilihan, Djailani menyatakan kesanggupannya. Ia datang bukan dengan bahasa tentang jabatan, melainkan dengan kalimat yang jauh lebih personal.

“Saya siap mewakafkan diri,” sebutnya menyatakan kesanggupan.

Kalimat itu menemukan maknanya beberapa saat setelah Muswil berakhir. Ketika ditanya apa yang membuatnya bersedia bergabung dalam Presidium KAHMI Kaltim untuk lima tahun ke depan, Djailani memberikan jawaban yang sederhana.

“Merajut kembali kerinduan dengan para kader muda HMI,” jawabnya tenang.

Jawaban tersebut membawa ingatan jauh ke belakang. Djailani bukan orang baru dalam sejarah HMI. Ia pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang Samarinda pada periode 1979-1981. Puluhan tahun telah berlalu sejak masa itu. Dunia berubah, generasi berganti, dan Kaltim kini berada pada fase yang jauh berbeda dibanding ketika ia masih aktif sebagai mahasiswa.

Dalam perjalanan panjang setelah masa kemahasiswaannya, Djailani pernah berada dalam jajaran eksekutif pemerintahan. Di tingkat nasional, ia pernah menjabat sebagai Asisten Deputi Menko EKUIN/Bappenas. Di Kalimantan Timur, pengalamannya antara lain bersentuhan dengan posisi Kepala Humas Pemprov Kaltim, Kepala Dinas Perindagkop Kaltim dan Kepala Dinas Nakertrans. Pengalaman birokrasi itu kini bertemu kembali dengan akar aktivismenya di HMI.

Di situlah sosok Djailani menjadi menarik. Ia bukan sekadar senior yang kembali muncul dalam struktur organisasi. Ia seperti mempertemukan dua fase perjalanan KAHMI yakni masa ketika HMI menjadi ruang pembentukan idealisme anak muda, dengan masa ketika para alumninya telah tersebar dalam birokrasi, dunia usaha, akademisi, profesi, ruang sosial, keagamaan hingga berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Bagi Djailani, jarak waktu tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Justru sebaliknya, usia dan pengalaman semestinya membuat seorang kader semakin memahami bahwa nilai yang diperoleh dari HMI tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan kampus.

“Sebagai kader, jangan pernah berhenti bergerak, bersilaturahim, berjuang dan merefleksi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI,” ujarnya.

Ia memandang bergerak sebagai bagian penting dari kehidupan seorang kader. Bukan semata-mata bergerak dalam pengertian jabatan atau aktivitas organisasi, tetapi menjaga agar nilai-nilai yang pernah dipelajari tetap menjadi napas dalam kehidupan sehari-hari.

“Bergerak adalah nutrisi hidup, agar kita tetap sehat dan terus bersemangat. Sekecil apa pun profesi, peran serta keberadaan kita, nilai-nilai NDP terus menjadi napas dan gerak hidup serta intrinsic value yang terus kita perjuangkan sebagai sikap hidup.”

Pesan itu kemudian ia kaitkan dengan semangat pengabdian yang lebih luas. Bagi Djailani, alumni HMI boleh berada di mana saja dan menjalani profesi apa saja, tetapi ada nilai yang semestinya tetap menyatukan mereka. Ia mengutip pesan Al-Qur’an dalam Ali Imran ayat 110 tentang menjadi umat terbaik yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Dari sudut pandang itu pula, komposisi tujuh Presidium KAHMI Kaltim periode 2026-2031 dapat dibaca sebagai wajah baru organisasi. Bukan wajah baru yang memutus hubungan dengan masa lalu, melainkan wajah baru yang mencoba menggabungkan pengalaman generasi terdahulu dengan energi generasi berikutnya.

Konteks Kalimantan Timur sendiri membuat kebutuhan tersebut semakin terasa. Kaltim tidak lagi hanya dipandang sebagai provinsi penyangga pembangunan nasional. Kehadiran Ibu Kota Nusantara membawa perubahan besar terhadap posisi daerah ini. Bersamaan dengan itu, muncul berbagai persoalan baru yang membutuhkan keterlibatan banyak kelompok meliputi pemerintahan, investasi, pendidikan, keagamaan, masyarakat sipil, media, dunia usaha hingga generasi muda.

Karena itu, gagasan tentang KAHMI yang lintas generasi dan lintas profesi menjadi relevan dalam perkembangan organisasi. Generasi senior memiliki pengalaman, jaringan dan ingatan sejarah organisasi. Generasi yang berada di tengah memiliki pengalaman pemerintahan, bisnis dan profesional. Sementara generasi muda membawa energi baru, kemampuan membaca perubahan zaman dan kedekatan dengan ruang digital serta komunitas.

Djailani sendiri sebelumnya telah menyuarakan gagasan tersebut menjelang Muswil. Menurutnya, tantangan Kaltim hari ini tidak lagi sama sehingga KAHMI tidak cukup dijawab oleh satu generasi dan satu profesi.

Ia membayangkan KAHMI sebagai rumah besar yang mampu mempertemukan berbagai kekuatan tersebut. Ada birokrat dan politisi, pengusaha dan investor, akademisi dan profesional, ulama dan aktivis masjid, hingga pekerja media dan generasi kreator. Semua mempunyai ruang kontribusi masing-masing.

Bagi Djailani, keragaman itu bukan kelemahan. Justru di situlah kekuatan organisasi alumni HMI. KAHMI tidak harus menyeragamkan latar belakang anggotanya. Yang dibutuhkan adalah menemukan titik temu nilai, kemudian mengubah keberagaman pengalaman tersebut menjadi kerja bersama.

Gagasan mengenai sistem kerja juga menjadi bagian dari dinamika Muswil kali ini. Wacana kembali kepada sistem presidensial muncul bersamaan dengan pembicaraan mengenai kepemimpinan organisasi ke depan. Namun bagi Djailani, persoalannya bukan semata memilih satu model dan meninggalkan model lainnya.

Ia melihat pentingnya kepemimpinan yang kuat sekaligus tetap menjaga keterwakilan. Kolektif kolegial tetap memberi ruang bagi banyak unsur untuk terlibat, sementara pola kerja yang efektif dibutuhkan agar organisasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Di titik ini, tujuh Presidium KAHMI Kaltim periode 2026-2031 memiliki pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar mengisi struktur. Mereka harus mengubah komposisi yang beragam itu menjadi energi organisasi. Tantangannya bukan hanya bagaimana tujuh nama tersebut bekerja, tetapi bagaimana seluruh jaringan alumni merasakan bahwa KAHMI masih menjadi rumah bersama.

Respons sejumlah alumni setelah Muswil memperlihatkan adanya harapan terhadap komposisi baru tersebut. Ada yang berharap kepengurusan baru membawa energi yang lebih kuat. Ada pula yang melihat kehadiran senior seperti Djailani sebagai kesempatan mempertemukan pengalaman generasi lama dengan kader-kader muda.

Bagi sebagian alumni, kehadiran Djailani juga memiliki makna simbolik. Ia adalah salah satu senior dari generasi awal perjalanan KAHMI Kaltim yang kembali hadir di tengah dinamika organisasi. Bukan untuk mengulang masa lalu, tetapi untuk menyambung percakapan dengan generasi yang hari ini sedang memegang tongkat estafet.

“Insya Allah lebih baik karena Kader Unggulan, bismillah. Semoga Allah mudahkan dengan Rahmat nya,” ucap alumni HMI, La Bia.

Pada akhirnya, perubahan wajah KAHMI Kaltim tidak semata-mata ditentukan oleh siapa saja yang duduk di Presidium. Perubahan itu akan terlihat dari bagaimana organisasi tersebut bekerja setelah Muswil selesai, bagaimana alumni kembali terhubung, bagaimana kader muda diberi ruang, dan bagaimana pengalaman para senior diterjemahkan menjadi gagasan yang relevan dengan zaman.

Bagi Djailani, mungkin inilah alasan paling sederhana mengapa ia kembali. Setelah puluhan tahun menjalani perjalanan di berbagai ruang pengabdian, ada satu ruang yang ternyata tidak pernah benar-benar ditinggalkan yakni ruang silaturahmi dengan kader.

Ia datang sebagai wajah baru dalam struktur Presidium, tetapi membawa ingatan lama tentang HMI. Ia membawa pengalaman pemerintahan, tetapi kembali dengan bahasa kader. Ia datang dari generasi yang berbeda, tetapi justru ingin merajut hubungan dengan generasi muda.

Dan mungkin, di sanalah makna sebenarnya dari wajah baru KAHMI Kaltim kali ini. Bukan mengganti masa lalu, melainkan mempertemukannya dengan masa depan.

“Sebagai kader, jangan pernah berhenti bergerak, bersilaturahim, berjuang dan merefleksi Nilai Dasar Perjuangan HMI.” pesannya. (Ain)

Related posts