Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
BERITA UTAMA PENDIDIKAN

Budisatrio Gelar Bimtek Budaya Bawang Merah, Kaltim Kebagian 60 Hektare lahan dari Kementan RI

Sub Koordinator bawang merah dan sayuran umbi Ditjen Hortikultura Kementan, M. Syafuddin Abdurrohim saat menyampaikan materinya

Kompak.id, Tenggarong – Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) di tahun 2022  kebagian lahan seluas 60 hektare untuk ditanami bawang. Tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS) sejak 2021 lalu, Kaltim sudah kebagian 32 hekatre lahan untuk menanam bawang merah.

Hal ini sampaikan oleh Sub Koordinator bawang merah dan sayuran umbi Ditjen Hortikultura Kementan, M. Syafuddin Abdurrohim usai menjadi narasumber Bimtek teknik budaya dan pascapanen bawang merah untuk peningkatan produksi yang digelar Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Budisatrio Djiwandono bersama Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) di hotel Grand Elty Tenggarong. Kamis (02/06/2022).

Kemudian lanjut Syafuddin, tahun 2022 telah terjadi penambahan lahan sebanyak 60 hektare. Seluas 40 hektare ada di Paser dan Penajam Paser Utara (PPU), kemudian 20 hektare di Kutai Kartanegara (Kukar). Lahan-lahan tersebut diperuntukkan bagi kelompok petani.

“Dana provinsi 40 hektare dan 20 hektare melalui dana aspirasi,” sebutnya

Tanah di Kaltim sendiri memang terbilang berbeda dengan tanah di jawa dan daerah lain yang memang sudah sesuai untuk ditanami bawang merah. Kendati demikian, bukan berarti tanah di Kaltim tidak bisa dipakai sama sekali. Hanya saja perlu sedikit usaha yang lebih dibanding dengan tanah di daerah lain.

“Jadi memang kondisi tanah bisa diperbaiki dengan penambahan bahan organik atau kandungan-kandungan zat tertentu yang bisa untuk meredam kandungan FE,” terangnya

Dengan begini, tentu dapat menjadi ajang untuk mensejahterakan petani. Mereka tak perlu berkutat pada padi dan jagung saja, tapi juga bisa menambah dengan menanam bawang merah.

BACA JUGA :  Mahasiswa Pascasarjana KPI UINSI Gelar Public Speaking

Dia menambahkan, melalui Bimtek ini juga menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi keinginan masyarakat mengalihfungsikan lahannya. Ada juga sosialisasi terkait keuntungan budi daya hortikultura, sehingga masyarakat bisa melihat bahwa ada peluang lain, ketimbang mengalihfungsikan lahannya ke tambang atau perkebunan.

“Dibandingkan lahan dialihfungsikan. Keuntungannya (hortikultura) lebih tinggi, petani lebih sejahtera. Mudah-mudahan itu bisa meredam masyarakat untuk mengalihfungsikan lahannya,” harapnya.

Bahkan ada program khusus, yakni Kampung Hortikultura. Kata dia, program ini berperan untuk membuat hortikultura berkelompok dalam kawasan skala ekonomi. Minimal ada 5-10 hektare lahan per desa atau kampung. Jika demikian, maka desa/kampung tersebut bisa dijadikan sebagai desa/kampung hortikultura.

“Misal ada lima kelompok, dari satu kelompok misal ada 100 orang petani, tapi dalam satu desa luasannya mencapai 5 hektare untuk bisa diajukan jadi kampung bawang merah,” tututnya

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Budisatrio Djiwandono melalui virtual meyampaikan rasa syukur Bimtek bisa terus dilaksanakan bersama mitra kerja dalam hal ini Kementerian Pertanian. Dia mengapresiasi dan berterima kasih kerjasamanya atas kerjsama yang telah berjalan bertahun-tahun.

“Saya juga ucapkan terima kasih telah membantu dalam melaksanakan Bimtek kepada masyatakat dan mudah-mudahan ini bermanfaat. Saya meminta maaf tidak bisa hadir secara langsung karena 20 menit lagi akan ada rapat kerja bersama Mentri Pertanian dan ini sangat penting karena ini membahas terkait anggaran untuk tahun 2023,” tutupnya (Oke)

Facebook Comments Box

Related posts