Kompak.id, Samarinda – Dunia seni rupa di Kalimantan Timur dinilai tidak cukup hanya bertumpu pada bertambahnya jumlah seniman. Ekosistem seni juga membutuhkan apresiasi, kolektor, hingga ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan memahami karya seni.
Hal tersebut disampaikan pelukis Kalimantan Timur, Cadio Tarompo, yang dipercaya menjadi pemateri workshop melukis tote bag dalam rangkaian Artist Residency Dayak Eksodus “Jejak Tanah, Identitas dan Perubahan” yang digagas Yayasan Genta Warisan Budaya Alam Nusantara (Gawiyyan).
Dalam workshop tersebut, Cadio akan mengajak peserta melukis simbol yang lekat dengan identitas masyarakat Dayak, yakni burung enggang. Teknik yang diberikan dibuat sederhana dan menyesuaikan media tote bag yang memiliki karakter berbeda dengan kanvas.
“Karena durasinya tidak terlalu lama, temanya juga simpel. Ada hubungannya dengan Dayak Exodus, saya akan mengambil simbol hewan yang ikonik bagi Dayak, yaitu burung enggang,” ujar Cadio, Sabtu (12/9/2026) malam.
Menurutnya, peserta tidak hanya diperkenalkan pada bentuk objek yang akan dilukis, tetapi juga teknik membuat karya yang memiliki daya tarik secara visual dalam waktu singkat. Sebab, tote bag memiliki karakter berbeda dengan lukisan yang dipajang sebagai karya seni di atas kanvas.
“Tote bag itu bagaimana caranya supaya lebih cepat, hampir sama dengan poster. Dia punya daya tarik sekilas. Kalau lukisan kita tatap berlama-lama, tapi kalau tote bag itu sama dengan poster, bagaimana caranya dia punya daya tarik,” jelasnya.

Cadio menilai Artist Residency Dayak Eksodus menjadi agenda yang menarik bagi perkembangan seni rupa di Kalimantan Timur. Menurutnya, kegiatan residensi memberikan kesempatan kepada perupa untuk belajar dan berkarya secara langsung melalui proses yang lebih dekat dengan objek maupun lingkungan kebudayaan yang diangkat.
“Artis residensi artinya memberi ruang kepada perupa-perupa untuk belajar secara langsung. Ini sangat menarik untuk ekosistem keberlanjutan seni rupa di Kalimantan Timur. Saya sangat support,” katanya.
Ia menyebut salah satu persoalan yang masih dihadapi dunia seni rupa di Kaltim bukan lagi sebatas jumlah seniman. Menurut Cadio, seniman yang ada sudah cukup banyak, tetapi ekosistem yang menghasilkan keberlanjutan secara ekonomi masih perlu diperkuat.
“Problemnya hanya satu. Senimannya sudah banyak, tapi output-nya yang enggak ada. Output-nya apa? Kita sudah profesional, artinya di situ ada penjualan,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong tumbuhnya kolektor karya seni di Kalimantan Timur. Menurutnya, pemerintah, pejabat, maupun kalangan pengusaha dapat ikut membangun tren tersebut dengan mulai mengoleksi karya seniman lokal.
Cadio menilai langkah tersebut dapat menjadi contoh yang kemudian diikuti oleh masyarakat lebih luas. Ketika karya seni mulai dipandang sebagai sesuatu yang layak dikoleksi dan memiliki nilai investasi, ekosistem seni rupa diyakini akan ikut berkembang.
“Gimana caranya menjadikan tren sebuah koleksi karya itu dari awal kepemimpinannya, entah gubernur, wali kota, atau bupati, memberi contoh mengoleksi karya-karya seniman seni rupa yang ada di Kalimantan Timur,” tuturnya.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan kemudahan menghasilkan gambar melalui printing maupun berbagai perangkat digital, Cadio juga menilai seni rupa manual tetap memiliki ruang tersendiri. Ia tidak melihat teknologi sebagai ancaman, melainkan sesuatu yang dapat berjalan berdampingan dengan proses berkesenian.
“Sebetulnya teknologi itu senantiasa berdampingan dengan seni rupa. Teknologi itu kita bisa pakai. Dan nilai seni rupa manual itu tetap punya nilai yang lebih tinggi daripada yang instan,” katanya.
Karena itu, menurutnya, seniman perlu mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan nilai dan karakter karya yang dihasilkan melalui proses manual.
Sementara itu, Ketua Yayasan Genta Warisan Budaya Alam Nusantara (Gawiyyan), Fitri Eka Dinanti, mengatakan keterlibatan generasi muda memang menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Artist Residency Dayak Eksodus. Selain pameran karya, kegiatan tersebut juga diisi workshop seni lukis untuk pelajar SMA hingga mahasiswa.
“Kita akan mengajak juga para generasi muda yang memang berminat untuk melakukan seni lukis ini, anak-anak muda,” ujar Fitri.
Cadio berharap pengenalan seni rupa kepada generasi muda tidak semata-mata diarahkan agar mereka menjadi pelukis. Lebih jauh, ia ingin generasi muda memiliki wawasan dan apresiasi terhadap seni sehingga kelak dapat tumbuh menjadi bagian dari ekosistem seni, termasuk sebagai kolektor.
“Harapan saya, selain kolektor, otomatis kita ingin menumbuhkembangkan apresiasi terhadap generasi muda. Kita berharap bukan dia jadi seorang pelukis, tapi dia punya wawasan terhadap seni rupa yang akhirnya bisa nanti suatu saat menjadi kolektor. Itu yang terpenting,” pungkasnya. (Ain)
