Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
KONI KALTIM

Taekwondo Kaltim Perkuat Kualitas Atlet dan Penguji, Antisipasi Regulasi PON 2028

Kompak.id, Samarinda – Taekwondo Indonesia (TI) Kalimantan Timur terus memperkuat kualitas atlet, pelatih, dan penguji melalui pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Penguji Daerah serta Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Dan Kukkiwon. Kegiatan yang digelar di Gedung Pusdiklat GOR Kadrie Oening tersebut menjadi bagian dari upaya TI Kaltim menyesuaikan diri dengan regulasi Taekwondo yang terus berkembang.

Wakil Ketua II TI Kaltim, Alfons Lung, mengatakan Diklat Penguji Daerah digelar untuk menyamakan pemahaman para penguji di daerah terhadap aturan dan mekanisme pengujian yang berlaku di Persatuan Taekwondo Indonesia (PBTI).

“Tujuan daripada diklat penguji daerah itu untuk sinkronisasi dengan aturan-aturan yang ada di PBTI sekarang, terkait dengan mekanisme bagaimana menguji dan segala macam,” kata Alfons, Sabtu (12/9/2026).

Diklat tersebut merupakan pelaksanaan yang kedua kalinya dan diikuti sebanyak 36 peserta. Para peserta yang dinyatakan memenuhi persyaratan nantinya akan menjalankan tugas sebagai penguji di masing-masing daerah. Peserta diklat berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Kaltim, dengan Mahakam Ulu dan Bontang tidak mengirimkan peserta.

“Pesertanya ada 36 penguji. Rata-rata mereka sudah Dan II dengan usia minimal 21 tahun sesuai syarat dan ketentuan. Alhamdulillah semuanya sepertinya lulus, tadi saya dengar dari penguji dari PB,” ujarnya.

Selain diklat, TI Kaltim juga menggelar UKT Dan Kukkiwon yang diikuti sekitar 144 peserta. Peserta terbagi berdasarkan tingkatan dan kategori usia, mulai dari kelompok anak-anak hingga peserta dewasa.

Wakil Ketua II TI Kaltim, Alfons Lung

Alfons menjelaskan, UKT tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan dan tingkatan sabuk atlet, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memenuhi persyaratan administrasi untuk mengikuti kompetisi. Dalam perkembangan regulasi Taekwondo, atlet yang akan tampil pada event tertentu harus memiliki tingkatan atau Dan sesuai dengan ketentuan.

“Sekarang atlet itu harus memiliki lisensi atau level tertentu sehingga bisa mengikuti kejuaraan. Terutama yang grade 1, grade 2, atau event internasional maupun nasional, atlet harus memiliki level Dan I atau sabuk hitam,” jelasnya.

Menurutnya, regulasi tersebut sebenarnya telah diberlakukan sejak beberapa tahun lalu. Karena itu, TI Kaltim berupaya mengejar ketertinggalan dengan melaksanakan kegiatan kenaikan tingkat secara rutin. Alfons melihat antusiasme insan Taekwondo di Kaltim menjadi modal untuk meningkatkan kualitas dan mengejar daerah yang selama ini lebih maju, khususnya Jawa.

“Kita optimistis bisa mengejar ketinggalan kita dari Jawa terutama. Karena itu kegiatan seperti ini harus kita laksanakan secara rutin,” katanya.

Pelaksanaan UKT juga dinilai memiliki kaitan dengan persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Alfons menyebut terdapat kemungkinan regulasi terkait tingkatan Dan akan diterapkan dalam ajang PON mendatang, meski ketentuan tersebut masih dalam pembahasan.

“Kalau di PON itu konon katanya akan diberlakukan, ini masih digodok. Karena kalau event internasional harus Dan I, sementara aturan PON selama ini sabuk merah. Jadi kemungkinan PON juga akan diberlakukan itu. Kita masih menunggu,” ungkapnya.

Karena itu, TI Kaltim memilih melakukan antisipasi sejak dini dengan memperbanyak kegiatan peningkatan kualitas dan sertifikasi. Menurut Alfons, UKT merupakan kebutuhan bagi atlet maupun pelatih karena berkaitan dengan persyaratan untuk mengikuti kompetisi hingga pengembangan klub dan ranting.

“Ujian kenaikan tingkat bagi Taekwondo itu suatu keharusan. Ini menjadi syarat administrasi untuk mendukung prestasi mereka, khususnya atlet. Bahkan pelatih juga harus punya sertifikat dan lisensi untuk membuka ranting maupun klub,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua KONI Kaltim, Hendra Radinal Ary, mengapresiasi pelaksanaan Diklat dan UKT yang digelar TI Kaltim. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk memastikan atlet mendapatkan pembinaan teknik secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya meningkatkan prestasi.

“Kegiatan ini sangat baik sekali dan perlu kita apresiasi karena adanya penyampaian materi-materi berkaitan dengan teknik-teknik bela diri Taekwondo. Tanpa dibarengi pelatihan-pelatihan semacam ini, saya yakin prestasi Taekwondo ke depannya tidak akan bisa maksimal,” kata Hendra.

Hendra menilai pelaksanaan UKT memberikan kesempatan kepada atlet-atlet Kaltim untuk memperbaiki teknik serta kualitas latihan mereka. Hal tersebut menjadi salah satu fondasi penting untuk menghadapi persaingan pada kompetisi di tingkat regional, nasional, hingga internasional.

KONI Kaltim sendiri berharap pembinaan tersebut dapat mengembalikan kejayaan Taekwondo Kaltim di ajang PON. Hendra mengenang prestasi Taekwondo Kaltim pada sejumlah PON sebelumnya, ketika cabang olahraga tersebut menjadi salah satu penyumbang medali emas bagi Bumi Etam.

“Harapan kami dari KONI Kalimantan Timur melalui proses UKT tersebut adalah memberikan semangat kepada TI untuk bisa membekali atlet-atlet junior yang ada, memperbaiki teknik ataupun gerakan mereka dalam berlatih agar ke depan bisa berprestasi di kompetisi regional, nasional, dan internasional,” pungkasnya. (Ain)

Related posts