Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
BERITA UTAMA INSPIRASI NASIONAL

Hari Anak Nasional 2026: Dari Samarinda, Bintang dan Bulan Buktikan Anak Indonesia Mampu Mendunia

Kompak.id, Samarinda – Tema Hari Anak Nasional (HAN) 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan,” mengingatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh kasih sayang, perlindungan, pendidikan yang berkualitas, serta kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika keluarga, sekolah, dan lingkungan berjalan beriringan, anak-anak Indonesia mampu tumbuh menjadi generasi berkarakter yang siap bersaing di tingkat global.

Semangat itulah yang tercermin dari perjalanan kakak beradik asal Samarinda, Muhammad Bintang Prabu Adinata dan Maharatu Bulan Adinata, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia pada Llangollen International Musical Eisteddfod 2026 di Wales, Britania Raya.

Festival yang berlangsung pada 7–12 Juli 2026 di Royal International Pavilion, Llangollen, North Wales, tersebut merupakan salah satu festival musik dan tari internasional paling bergengsi di dunia. Diselenggarakan sejak 1947, ajang yang diikuti peserta dari sekitar 50 negara itu telah menjadi simbol persahabatan antarbangsa melalui seni dan budaya, sekaligus menjadi panggung bagi ribuan seniman dunia untuk memperkenalkan identitas budaya masing-masing.

Bersama Yayasan Kiny Kultura, Bintang dan Bulan menjadi bagian dari 26 anggota Delegasi Indonesia. Dari seluruh peserta, keduanya merupakan satu-satunya delegasi asal Samarinda yang mewakili Kalimantan Timur.

Delegasi Indonesia tampil membawakan kekayaan budaya Nusantara melalui tarian tradisional, musik, serta busana adat yang memikat perhatian penonton internasional. Penampilan tersebut membuahkan hasil membanggakan dengan meraih Juara I Folk Dance Group Category dan Juara III Children Folk Dance Category. Selain membawa pulang piala dan sertifikat, delegasi Indonesia juga menerima penghargaan berupa uang pembinaan dan sponsorship dari penyelenggara.

Selama festival, Bintang dan Bulan turut memperkenalkan budaya Indonesia melalui busana adat Dayak Kalimantan yang dikenakan dalam berbagai penampilan dan kegiatan budaya. Keikutsertaan mereka bukan sekadar mengikuti kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia, memperkenalkan keberagaman tradisi Nusantara sekaligus membangun persahabatan dengan peserta dari berbagai negara.

Sebagai bagian dari delegasi Indonesia, keduanya tidak hanya tampil pada sesi kompetisi, tetapi juga mengikuti parade budaya, pertunjukan persahabatan, dan berbagai kegiatan pertukaran budaya bersama peserta dari berbagai belahan dunia. Pengalaman tersebut menjadi ruang belajar yang memperkaya wawasan internasional sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa.

Di balik keberhasilan tersebut tersimpan perjuangan yang tidak ringan. Seluruh biaya perjalanan ke Britania Raya, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, konsumsi, hingga kebutuhan selama mengikuti festival, ditanggung secara mandiri oleh keluarga tanpa dukungan pendanaan dari instansi maupun lembaga pemerintah. Meski demikian, keterbatasan itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk membawa Merah Putih berkibar di panggung dunia.

Keberhasilan itu juga tidak diraih secara instan. Selama berbulan-bulan, seluruh anggota delegasi menjalani latihan intensif untuk menyempurnakan teknik tari, kekompakan tim, ekspresi, hingga penguasaan panggung. Disiplin, kerja keras, konsistensi, dan semangat belajar menjadi fondasi yang mengantarkan mereka meraih prestasi di tingkat internasional.

Bagi keluarga, pencapaian tersebut merupakan buah dari proses pembinaan yang dilakukan sejak usia dini. Sang ibu, Nia Nuswantari, secara konsisten mendampingi kedua anaknya mengembangkan bakat di berbagai bidang, mulai dari seni, olahraga, akademik, teknologi, komunikasi, hingga keterampilan hidup. Baginya, tujuan utama bukan sekadar mengejar gelar juara, melainkan membentuk karakter anak yang disiplin, mandiri, kreatif, serta berani menghadapi tantangan.

“Kami tidak pernah menargetkan anak-anak harus menjadi juara. Yang kami tanamkan adalah keberanian untuk mencoba, disiplin menjalani proses, dan terus belajar. Prestasi hanyalah bonus dari usaha dan doa,” ujar Nia.

Perjalanan Muhammad Bintang Prabu Adinata, yang lahir di Samarinda pada 13 Januari 2014, menunjukkan bagaimana pembinaan yang konsisten mampu melahirkan prestasi di berbagai bidang. Kini ia menempuh pendidikan di Thursina Islamic International Boarding School, Malang.

Sebelum mengharumkan nama Indonesia di Wales, Bintang telah menjadi Delegasi UNESCO Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) di Kuala Lumpur, Malaysia, sekaligus meraih penghargaan Best Dress berkat busana adat Dayak Kenyah Kalimantan Timur yang dikenakannya dalam forum internasional tersebut.

Ia juga mengikuti berbagai program pengembangan kepemimpinan dan teknologi di Jepang melalui Schoters by Ruangguru, antara lain di Keio University, Waseda University, dan The Institute of Science Tokyo, dengan materi kepemimpinan, quantum computing, coding, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan machine learning. Di bidang olahraga, Bintang pernah mengikuti pembinaan di Real Madrid Foundation, Cruzeiro FC Brazil Soccer Academy, dan Barça Academy Camps, selain aktif dalam sepak bola, basket, renang, catur, bela diri, serta berbagai cabang olahraga lainnya.

Ketertarikannya juga berkembang pada seni tari, permainan alat musik sape dan drum, penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang, public speaking melalui Model United Nations, debat, dan pidato. Di luar itu, ia membekali diri dengan berbagai keterampilan hidup seperti fotografi, memasak, baking, barista, pertanian, pertukangan, pelatihan pertolongan pertama (first aid), serta kemampuan di bidang web development, coding, programming, dan desain digital.

Sementara itu, Maharatu Bulan Adinata, yang lahir di Samarinda pada 27 November 2016, saat ini bersekolah di SD Islamic Center Samarinda. Meski usianya masih belia, Bulan telah mengoleksi berbagai prestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Ia pernah menjadi finalis Olimpiade Omni Sains Indonesia (OSI) tingkat kota dan Provinsi Kalimantan Timur, meraih berbagai penghargaan pada kompetisi fashion show, menjadi Juara II Public Speaking Championship, Juara III English News Reading Competition, serta Juara Harapan I Lomba Dongeng Cerita Rakyat Kalimantan Timur tingkat provinsi.

Di bidang seni tari, Bulan juga meraih Bronze Prize pada World Dance Festival Indonesia 2026 sebelum akhirnya mengantarkan Indonesia meraih prestasi di Wales. Kemampuannya terus berkembang melalui seni tari, menyanyi, memainkan drum dan alat musik sape, membatik, serta aktif sebagai master of ceremony (MC), pendongeng, news presenter cilik, dan voice over talent. Selain itu, ia juga mengembangkan keterampilan di bidang fashion design, fotografi, baking, memasak, pottery, merajut, makrame, meronce, bertani, serta mulai diperkenalkan pada coding, desain digital, dan pengembangan web.

Prestasi mereka di Britania Raya tidak berhenti pada kompetisi seni. Selama berada di Inggris, Bintang dan Bulan juga mengikuti Meta Artificial Intelligence Program 2026 yang diselenggarakan oleh Meta untuk memperkenalkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan kepada generasi muda. Keduanya juga mengikuti Leadership Program yang diselenggarakan oleh CIE Oxford di Oxford, Inggris, yang membekali peserta dengan wawasan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan perspektif global.

Perjalanan Bintang dan Bulan menunjukkan bahwa pengembangan potensi anak tidak perlu dibatasi hanya pada satu bidang. Keduanya dibimbing untuk bertumbuh secara seimbang melalui seni, akademik, olahraga, teknologi, bahasa asing, kepemimpinan, komunikasi, serta berbagai keterampilan hidup. Pendekatan tersebut tidak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga membentuk karakter anak yang mandiri, kreatif, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap budaya serta masyarakat.

Dalam membangun kemampuan komunikasi, Bintang dan Bulan juga mengikuti pelatihan private public speaking di Semesta Academy Samarinda. Direktur sekaligus Co-Founder Semesta Academy, Endro S. Efendi, mengatakan keberhasilan kedua anak tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan pengembangan karakter mampu melahirkan generasi yang siap bersaing di tingkat internasional.

“Tema Hari Anak Nasional tahun ini mengingatkan bahwa bentuk kasih sayang terbaik kepada anak bukan hanya memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga memberikan ruang untuk belajar, berlatih, membangun karakter, dan mengembangkan potensinya. Prestasi Bintang dan Bulan membuktikan bahwa ketika keluarga, sekolah, dan lembaga pengembangan karakter berjalan beriringan, anak-anak Indonesia mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter, serta siap menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” ujar Endro.

Kisah Muhammad Bintang Prabu Adinata dan Maharatu Bulan Adinata membuktikan bahwa prestasi anak tidak lahir secara instan. Di balik setiap penghargaan terdapat keluarga yang terus mendampingi, guru yang membimbing, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan yang diberikan kepada anak untuk belajar, berlatih, dan berkarya.

Semangat itulah yang sejalan dengan tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Ketika anak diberi ruang untuk bermimpi, mengembangkan potensi, dan mengekspresikan kemampuannya, mereka tidak hanya mampu mengharumkan nama daerah dan bangsa, tetapi juga menjadi duta budaya Indonesia yang membawa pesan persahabatan, kolaborasi, dan harapan di panggung dunia. (*)

Related posts