Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
BERAU

Merawat Warisan, Menjemput Masa Depan Berau

Tanjung Redeb – Di tengah kekayaan hutan tropis, gugusan pulau eksotis dan laut yang menjadi rumah bagi penyu hijau serta pari manta, Kabupaten Berau sesungguhnya menyimpan modal yang jauh lebih besar dari sekadar bentang alam. Di balik setiap tarian adat, kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga kisah-kisah leluhur yang diwariskan turun-temurun, tersimpan peluang untuk membangun masa depan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Kesadaran itulah yang kini terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Berau. Di saat banyak daerah masih bergantung pada sektor pertambangan dan perkebunan, Berau mulai menapaki arah pembangunan yang berbeda menjadikan pariwisata dan kebudayaan sebagai fondasi ekonomi baru.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, meyakini kekayaan alam dan budaya bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Keduanya harus dipadukan agar mampu menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Berau tidak hanya dianugerahi panorama alam yang luar biasa, tetapi juga memiliki warisan budaya yang menjadi identitas daerah. Kedua potensi ini harus berjalan beriringan agar mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Gamalis saat ditemui media ini. Selasa (28/07/2026)

Pandangan tersebut sejalan dengan perubahan tren pariwisata dunia. Wisatawan kini tidak lagi hanya mengejar keindahan panorama. Mereka ingin merasakan denyut kehidupan masyarakat lokal, menyaksikan tradisi yang masih lestari, mencicipi makanan khas, hingga mengenal cerita di balik setiap budaya yang mereka temui.

Karena itu, pelestarian budaya menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan pariwisata Berau. Berbagai kesenian tradisional, adat istiadat, kuliner khas, kerajinan lokal, hingga festival budaya terus didorong agar tidak hanya bertahan sebagai warisan leluhur, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata yang bernilai ekonomi.

Bagi Gamalis, budaya tidak boleh berhenti sebagai simbol masa lalu. Di tangan masyarakat yang kreatif, budaya dapat menjadi ruang tumbuh bagi ekonomi kreatif, membuka lapangan kerja baru, sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah persaingan destinasi wisata.

“Budaya tidak boleh berhenti sebagai simbol atau peninggalan sejarah semata. Jika dikembangkan secara kreatif dan profesional, budaya dapat menjadi sumber penghasilan sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Berau,” katanya.

Namun, membangun pariwisata tidak cukup hanya dengan mempercantik destinasi. Yang lebih penting adalah membangun manusia yang mengelolanya. Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong peningkatan kapasitas pengelola objek wisata, pemandu wisata, pelaku UMKM, hingga insan ekonomi kreatif agar mampu menghadirkan pelayanan yang berkualitas dan berdaya saing.

Di sisi lain, keberhasilan sektor ini juga memerlukan kolaborasi yang lebih luas. Pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat di kampung-kampung wisata memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang sehat dan berkelanjutan.

Bagi Berau, pariwisata bukan lagi sekadar tentang jumlah wisatawan yang datang atau lama mereka menginap. Lebih dari itu, pariwisata menjadi jalan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus memastikan budaya lokal tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Optimisme itu terus dijaga. Dengan pengelolaan yang konsisten, Berau diyakini mampu menjadikan sektor pariwisata dan kebudayaan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi masa depan yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjaga jati diri daerah.

“Kami ingin membangun ekosistem pariwisata secara menyeluruh, mulai dari destinasi, masyarakat, hingga pelestarian budaya dan lingkungan. Dengan begitu, manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan kekayaan alam maupun budaya yang kita miliki,” pungkas Gamalis.(mit/oke)

Related posts