Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
BERITA UTAMA

Sirup Penyebab Gagal Ginjal? Dinkes – Abah Nanang Imbau Jangan Panik

dr Jaya Mualimin (kiri) dan Abah Nanang (kanan)

SAMARINDA – Obat batuk serta demam dalam bentuk sirup untuk anak, diduga menjadi penyebab gagal ginjal. Kasus ini merebak di beberapa negara, termasuk Indonesia. Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS., menyebutkan, warga Kaltim tidak perlu panik berlebihan.

“Sementara ini, belum ditemukan kasus serupa di Kaltim. Adanya ditemukan di Jawa, terutama Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur,” sebut dokter Jaya, sapaan akrabnya, ketika dikonfirmasi media ini (19/10).

Namun demikian, Dinas Kesehatan Kaltim langsung melakukan langkah antisipasi dengan menyampaikan edaran ke seluruh rumah sakit, puskesmas dan dokter, termasuk asosiasi dokter. Ia meminta semua pihak agar mewaspadai terkait sirup yang mengandung, dietilen glikol dan etilen glikol yang dicurigai menyebabkan gagal ginjal pada anak.

“Mudah-mudahan dengan surat edaran ini, bisa diterima dan sudah sampai ke semua teman dokter dan perawat untuk sementara tidak meresepkan sirup yang dicurigiai menjadi penyebab gagal ginjal. Walaupun di Kaltim kasusnya belum dilaporkan,” sambungnya.

Itu sebabnya, ia kembali menegaskan agar warga tidak panik. Apalagi Badan POM sudah beberapa kali menyampaikan, sirup yang mengandung dua bahan tersebut memang tidak terdaftar di Indonesia.

“Kalau terdaftar, sudah ditarik sejak lama. Kasus ini ditemukan di Gambia, Afrika. Khusus di Indonesia sedang didalami, apakah karena bahan itu, atau karena yang lain,” bebernya.

Pemerintah, kata dia, akan terus melakukan langkah pencegahan dan antisipasi agar kondisi ini bisa segera diketahui penyebabnya dan bisa mengambil langkah terbaik.

Apalagi Kementerian Kesehatan juga sudah menginstruksikan semua apotek agar tidak menjual obat bebas ataupun obat bebas terbatas dalam bentuk cair untuk sementara waktu.

Diketahui, belakangan merebak kasus gangguan ginjal akut misterius atau gangguan ginjal akut progresif atipikal yang menyerang anak-anak, umumnya balita. Gejala yang perlu diwaspadai adalah penurunan volume atau frekuensi urine maupun tidak ada urine, dengan atau tanpa demam/gejala prodromal lain.

BACA JUGA :  Motor Listrik dari Wagub Jadi Milik Suwandi Wijaya

Jika ditemukan gejala tersebut, masyarakat diimbau segera menuju ke klinik, rumah sakit, ataupun fasilitas kesehatan terdekat. Orang tua yang memiliki anak terutama usia balita untuk sementara juga disarankan tidak mengonsumsi obat-obatan yang didapatkan secara bebas tanpa anjuran dari tenaga kesehatan yang kompeten sampai dilakukan pengumuman resmi dari pemerintah.

Sebelumnya dikabarkan, berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat 192 kasus gangguan ginjal akut misterius di 20 provinsi hingga Selasa (18/10/2022). Data ini berasal dari cabang IDAI yang dia terima dan merupakan kasus kumulatif sejak Januari 2022. Masing-masing Januari 2 kasus, Maret 2 kasus, Mei ada 6 kasus, Juni ditemukan 3 kasus, Juli ada 9 kasus, disusul Agustus 37 kasus dan terakhir, September 81 kasus.

Gangguan ginjal akut (acute kidney injury/AKI) ini paling banyak di DKI Jakarta mencapai 50 kasus. Kemudian Jawa Barat 24 kasus, Jawa Timur 24 kasus, Sumatera Barat 21 kasus, Aceh 18 kasus, dan Bali 17 kasus. Provinsi lainnya antara 1-2 kasus. Penderita didominasi bayi di bawah usia lima tahun (balita).

Terpisah, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan Kaltim, H Nanang Sulaiman yang akrab disapa Abah Nanang menyampaikan ucapan terima kasih karena Dinas Kesehatan Kaltim sudah melakukan antisipasi.

“Jangan sampai ada korban di Kaltim karena sirup tersebut. Mudah-mudahan semua aman,” kata Abah Nanang ditemui di sela reses di Samarinda. Senator asal Kaltim ini berharap, masyarakat juga waspada terhadap obat sirup.

“Ikuti arahan pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan. Sementara kalau ada anak sakit, jangan beli obat bebas sembarangan. Minta resep dokter,” sambungnya.

Harapannya, penyebab gagal ginjal pada anak itu bisa segera ditemukan sehingga tidak meresahkan masyarakat. “Semoga bisa segera diantisipasi dengan baik, dan anak Indonesia tetap sehat tanpa kekhawatiran obat ini,” pungkasnya. (*)

 

Facebook Comments Box

Related posts