Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
ADVERTORIAL DPRD SAMARINDA

Kekurangan Guru Kelas di SD Jadi Perhatian DPRD Samarinda, Siswa Dinilai Paling Terdampak

Kompak.id, Samarinda — DPRD Samarinda menyoroti masih terjadinya kekurangan tenaga guru kelas di sejumlah sekolah dasar di Kota Tepian. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas pendidikan siswa dalam jangka panjang.

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, mengatakan keberadaan guru kelas memiliki peran sentral dalam aktivitas pembelajaran harian di sekolah dasar. Karena itu, kekosongan guru dinilai tidak bisa dianggap persoalan sepele.

“Kalau guru kelas tidak ada satu hari, maka sepanjang jam itu kosong. Kalau satu minggu bagaimana?” ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Menurut Ismail, siswa sekolah dasar berada pada fase pembelajaran dasar yang membutuhkan pendampingan intensif dari guru. Ketika kelas tidak memiliki pengajar tetap, maka proses transfer materi hingga pengawasan belajar menjadi tidak maksimal.

Ia menilai dampak dari kekosongan guru akan langsung dirasakan siswa karena mereka kehilangan waktu belajar yang seharusnya berjalan normal setiap hari.

“Anak-anak ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama tanpa pembelajaran yang terarah. Kalau terus terjadi, tentu berpengaruh terhadap capaian belajar mereka,” katanya.

Politikus PKS itu juga mengungkapkan bahwa persoalan kelas tanpa guru masih ditemukan di beberapa sekolah di Samarinda. Menurutnya, kondisi tersebut harus segera ditangani melalui langkah konkret dari pemerintah daerah.

“Ini bukan hanya soal administrasi kekurangan pegawai, tetapi menyangkut masa depan pendidikan anak-anak kita,” tegasnya.

DPRD Samarinda, lanjut Ismail, mendorong pemerintah untuk memiliki mekanisme cepat dalam mengatasi kekosongan tenaga pendidik, termasuk menyiapkan sistem pengganti sementara agar proses belajar tetap berjalan.

Ia menilai jangan sampai siswa menjadi pihak yang paling dirugikan akibat lambatnya penanganan kebutuhan guru di lapangan.

“Harus ada solusi cepat ketika terjadi kekosongan guru. Jangan sampai kegiatan belajar mengajar berhenti begitu saja,” ujarnya lagi.

Selain penanganan jangka pendek, DPRD Samarinda juga meminta perencanaan kebutuhan tenaga pendidik dilakukan lebih matang dan berbasis data. Dengan pemetaan yang jelas, pemerintah dinilai bisa memprediksi potensi kekurangan guru lebih awal.

Menurut Ismail, langkah tersebut penting agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap tahun dan berdampak berkepanjangan terhadap kualitas pendidikan di Samarinda.

“Perencanaan kebutuhan guru harus benar-benar dihitung. Dari situ bisa dipetakan sekolah mana yang rawan kekurangan tenaga pengajar,” pungkasnya. (Ain)

Related posts