Kompak.id, Samarinda — Sampah plastik yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ekonomi ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber energi alternatif. DPRD Kota Samarinda melihat peluang tersebut sebagai salah satu solusi dalam mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Muhammad Andriansyah, mengatakan jenis plastik yang dapat diolah menjadi bahan bakar justru berasal dari kategori plastik bernilai rendah atau low value yang selama ini sering terabaikan.
“Yang selama ini dibuang di jalan, plastik kresek, bungkus-bungkus tipis itu justru yang bisa diolah menjadi bahan bakar,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa hanya botol plastik yang memiliki nilai ekonomi. Padahal, dalam proses pirolisis, jenis plastik yang dimanfaatkan berbeda dengan plastik yang biasa dijual ke pengepul.
“Beda dengan botol plastik. Botol punya pengolahan sendiri, sementara untuk menjadi solar justru yang dipakai plastik-plastik low value,” katanya.
Andriansyah menjelaskan pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar dapat menjadi salah satu terobosan dalam mengurangi volume sampah yang selama ini sulit ditangani karena minim nilai jual.
Ia menilai kebutuhan energi yang terus meningkat seharusnya menjadi peluang untuk memanfaatkan sampah plastik yang selama ini hanya berakhir di tempat pembuangan.
“Kenapa tidak kita manfaatkan? Di satu sisi kebutuhan bahan bakar tinggi, di sisi lain bahan bakunya tersedia setiap hari,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menyebut teknologi pirolisis mampu mengubah limbah plastik tertentu menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sehingga tidak lagi dipandang sebagai sampah semata.
“Selama ini orang menganggap plastik seperti itu tidak ada nilainya, padahal ternyata bisa menghasilkan produk yang bermanfaat,” jelasnya.
Selain membantu mengurangi timbunan sampah, pemanfaatan plastik low value juga diyakini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya.
“Kalau masyarakat tahu sampah ini punya nilai ekonomi, saya yakin kesadaran untuk memilah sampah akan ikut meningkat,” katanya.
Meski demikian, Andriansyah mengingatkan bahwa tidak semua jenis plastik dapat diolah menjadi bahan bakar. Karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah tetap menjadi bagian penting dalam program tersebut.
“Jangan melihat sampah hanya sebagai limbah. Ada beberapa jenis yang justru bisa menjadi sumber ekonomi baru,” pungkasnya. (Adv/Ain/DPRDSamarinda)
