Kompak.id, Tenggarong – Kebangkitan suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap sejarah dan nilai-nilai luhur yang membentuk identitasnya. Sejarah bukan sekadar rekaman peristiwa masa lampau, melainkan sumber pembelajaran untuk membangun karakter, memperkuat kesadaran kebangsaan, serta merumuskan arah peradaban masa depan.
Semangat tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Peradaban Bangsa bertema “Menggali Akar Sejarah Peradaban Menuju Kebangkitan Bangsa” yang diselenggarakan DPD Hidayatullah Kutai Kartanegara di Pendopo Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Jumat (9/10/2026).
Seminar ini menjadi ruang dialog akademik untuk menelaah kembali perjalanan sejarah Nusantara sekaligus mengontekstualisasikannya dengan tantangan kehidupan bangsa saat ini. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dari Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), STIE Hidayatullah Balikpapan, dan STIE Hidayatullah Samarinda.
Dewan Murobbi Hidayatullah Pusat, KH Tasyrif Amin, yang hadir sebagai pembicara, mengapresiasi penyelenggaraan seminar di Kutai Kartanegara. Menurutnya, wilayah ini memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Nusantara, sehingga relevan menjadi ruang refleksi untuk memahami akar peradaban Indonesia.
“Saya lihat sangat positif karena diadakan di Kutai Kartanegara yang bisa disebut sebagai akar sejarah peradaban Indonesia. Karena di sinilah kerajaan tertua,” ujarnya.
Tasyrif menilai, pemahaman terhadap sejarah bangsa perlu dibangun secara utuh, mulai dari masa kerajaan Nusantara, perkembangan organisasi pergerakan, lahirnya Sumpah Pemuda, hingga perjuangan merebut kemerdekaan. Setiap fase memiliki keterkaitan dalam proses pembentukan identitas nasional dan kesadaran sebagai satu bangsa.
Menurutnya, pemahaman sejarah tidak cukup berhenti pada hafalan nama tokoh, tahun, dan peristiwa. Lebih dari itu, sejarah harus menjadi bahan perenungan untuk menggali nilai perjuangan, persatuan, kepemimpinan, dan tanggung jawab generasi penerus terhadap masa depan Indonesia.
Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat kajian sejarah di lingkungan perguruan tinggi agar mahasiswa memiliki perspektif yang kritis dan tidak tercerabut dari akar kebudayaan bangsanya.
“Animo peserta diskusi ini luar biasa, berasal dari tiga kampus yang tersebar di tiga kabupaten/kota di Kaltim,” terang Tasyrif.
Antusiasme tersebut, lanjutnya, merupakan modal penting untuk mengembangkan tradisi intelektual di kalangan generasi muda. Melalui forum ilmiah, mahasiswa diharapkan tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga mampu menguji gagasan, menyampaikan argumentasi, dan mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah.
Tasyrif berharap, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan agar generasi muda semakin mengenal akar sejarah bangsanya, sekaligus mampu mengambil nilai-nilai positif untuk menjawab tantangan zaman.
“Melalui penggalian sejarah disertai pembahasan dalam konteks kekinian, kita berharap kesadaran bahwa kebangkitan bangsa tidak terlepas dari pemahaman terhadap perjalanan sejarahnya sendiri terus tumbuh,” tuturnya
Pada akhirnya, menggali sejarah berarti merawat ingatan kolektif sekaligus meneguhkan arah masa depan. Dengan ilmu sebagai landasan, akhlak sebagai pedoman, dan nilai-nilai kebangsaan sebagai perekat.
“Sejarah diharapkan tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan sebagai inspirasi menuju peradaban Indonesia yang lebih bermartabat,” tuturnya
Sementara itu, Dosen Universitas Kutai Kartanegara, KH Mubarak, yang turut menjadi pembicara, menilai tema seminar tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat untuk menghubungkan sejarah dengan persoalan peradaban kontemporer.
Menurutnya, sejarah perlu direvitalisasi melalui pendekatan akademik yang kontekstual. Dengan demikian, kajian sejarah tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lalu, tetapi mampu menjadi landasan berpikir dalam merespons persoalan sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan pada masa kini.
“Acara ini sangat bagus karena berbicara mengenai bagaimana kita merevitalisasi sejarah, kemudian mengontekstualisasi sejarah itu untuk peradaban kita di saat sekarang atau kontemporer,” ungkapnya.
Mubarak juga mengapresiasi sikap kritis peserta selama seminar berlangsung. Ia memandang munculnya pertanyaan dan gagasan dari mahasiswa sebagai potensi yang perlu dikembangkan melalui forum akademik berkelanjutan.
Menurutnya, pemikiran yang lahir dari diskusi semacam ini perlu ditata dan dikembangkan secara ilmiah agar dapat memberikan kontribusi lebih luas, termasuk menjadi bahan pertimbangan bagi para pemangku kebijakan.
“Animonya bagus, maksudnya kritis. Saya kira ini satu potensi yang bisa kita kembangkan untuk para pimpinan perguruan tinggi,” sebutnya.
Dalam perspektif Islam, sejarah merupakan sumber ibrah atau pelajaran untuk membangun peradaban. Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Yusuf ayat 111, kisah-kisah terdahulu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
“Karena itu, kebangkitan bangsa harus ditopang oleh ilmu pengetahuan, akhlak, keadilan, dan persatuan,” pungkasnya
Seminar Nasional Peradaban Bangsa ini diharapkan memperkuat tradisi kajian sejarah di kalangan mahasiswa. Keterlibatan tiga perguruan tinggi menjadi momentum membangun kolaborasi akademik guna menumbuhkan kesadaran sejarah, intelektualitas, dan semangat kebangsaan.(Oke/Ain)
