Kompak.id, Berau – Pemerintah Kabupaten Berau mendorong seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk memperkuat koordinasi sekaligus mengoptimalkan setiap sumber daya yang tersedia.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat melakukan pengecekan kesiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau pada Jum’at (11/09/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Gamalis melihat secara langsung kondisi armada, peralatan pemadaman hingga dukungan logistik yang disiapkan untuk menghadapi karhutla. Menurutnya, kesiapan peralatan menjadi salah satu faktor penting mengingat kebakaran masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Gamalis menyebut kondisi karhutla yang terjadi di Berau sepanjang tahun ini cukup berat. Situasi tersebut, kata dia, mengingatkan pada kejadian serupa yang pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya.
“Situasi karhutla yang kita hadapi tahun ini cukup ekstrem. Kondisinya mengingatkan kita pada kejadian besar yang pernah terjadi sekitar enam sampai tujuh tahun lalu,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Gamalis meminta penanganan karhutla tidak dilakukan secara parsial. Pemerintah daerah, TNI-Polri, masyarakat, perusahaan serta pihak lain yang memiliki kemampuan dan sumber daya diminta berada dalam satu koordinasi.
Menurutnya, keterlibatan banyak pihak akan memperbesar kemampuan penanganan, terutama ketika kebakaran muncul di beberapa lokasi dalam waktu yang berdekatan.
“Semua unsur harus berada dalam satu gerak. Tidak boleh ada yang bekerja sendiri karena penanganan bencana membutuhkan kekompakan dan koordinasi agar hasilnya benar-benar maksimal,” tegasnya.
Gamalis juga meminta agar persoalan mengenai penyebab kebakaran tidak terlebih dahulu menghambat langkah pemadaman. Ia menilai prioritas utama dalam kondisi saat ini adalah mengendalikan dan memadamkan api, sementara evaluasi mengenai penyebab dapat dilakukan setelah kondisi lebih terkendali.
“Kondisi Kaltim, termasuk Berau, sedang menghadapi ancaman karhutla dan cuaca yang cukup berat. Untuk sekarang, mari kita fokus lebih dulu pada upaya pemadaman. Persoalan lainnya bisa kita evaluasi setelahnya,” katanya.
Dari sisi sarana dan prasarana, Gamalis menilai armada yang dimiliki pemerintah daerah perlu diperkuat dengan dukungan dari pihak ketiga. Tambahan kendaraan, peralatan serta personel dinilai dapat membantu memperluas jangkauan penanganan di lapangan.
“Kalau melihat luasnya penanganan yang harus dilakukan, armada yang ada tentu perlu diperkuat. Bantuan dari perusahaan maupun pihak ketiga, baik kendaraan, peralatan maupun tenaga, akan sangat membantu,” jelasnya.
Dalam pengecekan gudang logistik, Gamalis juga menyoroti keberadaan sejumlah peralatan yang masih berpotensi dimanfaatkan. Salah satunya mesin pompa portabel apung berikut selang yang dinilainya dapat mendukung distribusi air saat proses pemadaman.
Ia meminta peralatan tersebut segera diperiksa kondisinya dan apabila masih layak, dapat dimanfaatkan untuk memperkuat operasi di lapangan.
“Jangan sampai ada peralatan yang sebenarnya masih bisa digunakan tetapi hanya tersimpan. Saya melihat ada pompa portabel beserta selang yang kondisinya berdebu. Kalau masih layak, sebaiknya segera difungsikan untuk mendukung pemadaman,” ungkapnya.
Gamalis menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan kerja kolektif. Seluruh aset dan kemampuan yang dimiliki pemerintah maupun pihak lain harus dapat dimobilisasi secara cepat ketika dibutuhkan.
“Intinya, semua harus bersatu dan saling mendukung. Setiap sumber daya yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar penanganan karhutla bisa lebih cepat dan efektif,” pungkasnya. (Mit/Oke)
