Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
ADVERTORIAL DPRD SAMARINDA

Legislator Ini Ingatkan Pentingnya Budaya Membaca di Tengah Arus Digitalisasi

Kompak.id, Samarinda — Kemajuan teknologi digital dinilai tidak boleh menggeser budaya membaca dan menulis yang selama ini menjadi fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat terutama generasi muda diingatkan untuk tetap menjaga kebiasaan membaca secara mendalam.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, mengatakan perkembangan teknologi memang memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi. Namun menurutnya, kemudahan tersebut tidak selalu sejalan dengan peningkatan kualitas pemahaman dan kemampuan berpikir seseorang.

“Sekarang anak-anak lebih mudah mendapatkan jawaban karena ada Google dan berbagai aplikasi. Tetapi belum tentu mereka memahami proses untuk menemukan jawaban itu,” ujarnya, Senin (8/6/2026).

Menurut Anhar, terdapat perbedaan mendasar antara membaca buku secara langsung dengan membaca melalui perangkat digital. Ia menilai buku masih memiliki keunggulan dalam membangun konsentrasi dan kemampuan memahami suatu persoalan secara mendalam.

“Membaca buku itu memberi ruang untuk merenung dan memahami. Kalau di layar, perhatian kita sering terpecah karena banyak hal lain yang muncul bersamaan,” katanya.

Ia menilai budaya membaca yang kuat menjadi salah satu faktor yang melahirkan banyak pemikir besar dunia. Berbagai tokoh yang karya dan pemikirannya masih digunakan hingga saat ini tumbuh dari tradisi belajar yang mengandalkan proses membaca, menulis, dan berpikir secara mendalam.

“Ilmuwan-ilmuwan besar dulu tidak hidup dengan teknologi seperti sekarang, tetapi mereka mampu menghasilkan pemikiran yang sampai hari ini masih dipelajari,” ungkapnya.

Anhar mengaku prihatin dengan kecenderungan sebagian generasi muda yang lebih menyukai informasi singkat dan instan dibanding membaca referensi yang lebih panjang dan mendalam.

“Kita sekarang cenderung mencari yang cepat. Padahal kemampuan berpikir yang kuat justru lahir dari proses belajar yang tidak instan,” ujarnya.

Menurutnya, dunia pendidikan harus tetap memberikan ruang besar bagi aktivitas membaca, menulis, dan diskusi langsung meskipun teknologi semakin berkembang. Hal tersebut penting untuk melatih kemampuan analisis dan membangun daya kritis peserta didik.

“Para tokoh dunia sampai hari ini tetap menulis. Itu menunjukkan bahwa menulis masih menjadi bagian penting dalam membangun cara berpikir seseorang,” katanya.

Ia juga menilai bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu membentuk karakter, cara berpikir, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara mandiri.

“Kalau semua hal diselesaikan oleh perangkat digital, ada risiko kemampuan analisis dan daya pikir manusia menjadi semakin lemah,” tegasnya.

Anhar berharap perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran tanpa menghilangkan budaya literasi yang selama ini menjadi fondasi kemajuan peradaban manusia.

“Digitalisasi boleh berkembang, tetapi budaya membaca, menulis dan berpikir mendalam harus tetap menjadi kekuatan utama dunia pendidikan,” tutupnya. (Adv/Ain/DPRDSamarinda)

Related posts