Kompak.id, Samarinda — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dinilai membawa banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat kekhawatiran mengenai meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap perusahaan-perusahaan teknologi besar yang menguasai berbagai layanan digital.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai masyarakat perlu lebih kritis dalam menyikapi perkembangan teknologi agar tidak sepenuhnya bergantung pada platform digital yang dikendalikan korporasi besar.
Menurut Anhar, hampir seluruh aktivitas masyarakat saat ini mulai terhubung dengan sistem digital, mulai dari komunikasi, transaksi keuangan, hingga aktivitas perdagangan sehari-hari.
“Sekarang hampir semua elemen kehidupan sudah masuk ke dunia digital. Dari transaksi sampai aktivitas sehari-hari, semuanya diarahkan ke sana,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Ia mencontohkan berbagai platform digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut memang memudahkan berbagai aktivitas, namun di sisi lain juga menciptakan ketergantungan yang semakin besar.
“Yang perlu kita pikirkan, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari perkembangan teknologi ini. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi pengguna tanpa mendapatkan manfaat yang seimbang,” katanya.
Anhar menilai banyak orang memandang digitalisasi sebagai sesuatu yang tidak bisa dibantah dan selalu identik dengan kemajuan. Padahal, menurutnya, masyarakat juga perlu melihat dampak jangka panjang yang mungkin muncul akibat ketergantungan tersebut.
“Kita sering menganggap digitalisasi itu pasti kemajuan. Padahal tidak semua hal harus diserahkan kepada teknologi,” ungkapnya.
Ia bahkan mengingatkan bahwa perkembangan teknologi pada akhirnya juga menjadi ladang keuntungan bagi perusahaan-perusahaan besar yang mengembangkan berbagai platform digital tersebut.
“Perusahaan-perusahaan besar itu tentu mencari keuntungan. Karena itu masyarakat juga harus punya kesadaran dan daya kritis dalam menggunakan teknologi,” tegasnya.
Menurut Anhar, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat harus menolak teknologi. Namun penggunaan teknologi harus tetap dikendalikan oleh manusia dan tidak sampai menghilangkan kemampuan masyarakat untuk berpikir serta mengambil keputusan secara mandiri.
“Jangan sampai kita hidup dalam kondisi yang semuanya diatur oleh teknologi, sementara kemampuan manusia untuk berpikir dan mengambil keputusan justru berkurang,” ucapnya.
Ia juga menyoroti fenomena kecerdasan buatan atau AI yang kini semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang. Menurutnya, AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan manusia.
“AI itu alat bantu. Tetapi kalau semua jawaban diserahkan kepada mesin, maka lama-lama kemampuan analisis manusia bisa menurun,” katanya.
Anhar berharap perkembangan teknologi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati manfaat digitalisasi tanpa kehilangan kemandirian dan kemampuan berpikir kritis.
“Teknologi harus digunakan untuk membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia bergantung sepenuhnya kepada teknologi,” pungkasnya. (Adv/Ain/DPRDSamarinda)
