Kompak.id – Selama ini, ingatan orang tentang Kabupaten Berau selalu tertuju pada gradasi biru air laut Kepulauan Derawan, atau pesona bawah laut Maratua yang memikat dunia. Namun, jika Anda melangkah sedikit lebih dalam ke daratannya, sebuah harmoni magis yang telah berusia ratusan tahun sedang terjaga dengan anggun.
Di Kampung Tumbit Dayak, aroma dupa, lantunan doa leluhur, dan warna-warni pakaian adat baru saja menyatu dalam harmoni Festival Adat Bakudung Batiung. Perayaan ini sekaligus menandai momentum refleksi yang luar biasa: Hari Jadi ke-263 Kampung Tumbit Dayak.
Di tengah gempuran tren wisata bahari yang masif, kampung ini perlahan tapi pasti mencuri perhatian sebagai calon ikon baru wisata budaya di Bumi Batiwakkal.
Kehadiran Wakil Bupati Berau, Gamalis, dalam festival tersebut menegaskan arah baru pariwisata daerah. Berdiri di antara masyarakat adat, ia memandang kekayaan tradisi Tumbit Dayak bukan lagi sekadar masa lalu yang statis, melainkan sebuah modal masa depan.
“Budaya adalah identitas daerah. Kalau terus dijaga dan dikemas dengan baik, budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi melalui sektor pariwisata,” ujar Gamalis dengan optimisme tinggi.
Bagi pemerintah daerah, pelestarian budaya kini ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. Jika wisata bahari menawarkan keindahan alam, maka kampung adat seperti Tumbit Dayak menawarkan “jiwa” dan pengalaman humanis yang mampu memperpanjang cerita perjalanan para wisatawan yang berkunjung ke Berau.
Salah satu pemandangan paling memikat dalam Festival Bakudung Batiung kali ini adalah geliat ekonomi di sekitar area prosesi adat. Puluhan tenda pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berdiri rapi, menjajakan mulai dari kerajinan tangan khas, kain tradisional, hingga kuliner lokal.
Festival ini menjadi bukti nyata bagaimana sakralnya sebuah tradisi bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat. Pengunjung tidak hanya pulang membawa memori tentang keunikan adat, tetapi juga menenteng produk lokal karya warga dan perputaran uang selama festival berlangsung langsung dirasakan oleh emak-emak dan perajin di kampung.
Salah satu puncak magnet festival adalah ritual Panjat Piruaj, sebuah prosesi simbolis yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di balik keindahan visualnya, ada pesan mendalam yang ingin dititipkan kepada generasi muda.
Di era gempuran algoritma media sosial dan budaya luar, Gamalis berharap festival seperti ini bisa menjadi jangkar bagi anak-anak muda Tumbit Dayak agar tidak kehilangan arah.
“Kita ingin anak-anak muda bangga dengan budayanya sendiri. Jangan sampai tradisi yang sudah diwariskan ratusan tahun hilang karena tidak lagi dikenalkan kepada generasi berikutnya,” tuturnya penuh harap.
Menginjak usia 263 tahun, Tumbit Dayak bukan lagi kampung yang terisolasi. Dengan menyandang status sebagai Kampung Mandiri, mereka telah membuktikan diri mampu mengelola potensi desanya secara berdikari.
Pemerintah Kabupaten Berau pun berkomitmen untuk terus mengawal langkah Tumbit Dayak. Targetnya tidak main-main: membawa keunikan budaya Tumbit Dayak melompat dari sekadar kebanggaan lokal Berau, menjadi salah satu destinasi budaya yang diperhitungkan di kancah nasional.
Ketika malam turun dan festival berakhir, Tumbit Dayak kembali tenang. Namun, api semangat untuk menjaga warisan leluhur itu kini menyala lebih terang, siap menyambut dunia dengan kehangatan budayanya. (OK)
