Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
UMUM

Membedah ‘The Oracle of Usadha’: Ketika Sains Modern Berlutut pada Kearifan Leluhur Bali

Kompak.id, Denpasar – Ada suasana tidak biasa yang menggelayuti Ruang Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Senin sore itu. Ruangan yang biasanya menjadi saksi bisu perdebatan kebijakan makro dan serangkaian seremoni birokrasi, mendadak berubah menjadi sebuah laboratorium intelektual lintas generasi. Di sana, duduk berdampingan seorang rohaniwan senior, dua profesor sains bereputasi, dan deretan dokter muda.

Mereka disatukan oleh satu keresahan yang sama, yang termanifestasi dalam sebuah buku bertajuk The Oracle of Usadha. Lahir dari buah pemikiran Dr. dr. I Gusti Ngurah Putra Eka Santosa, M.Fis (yang akrab disapa Dokter Ngurah), buku ini menjadi jawaban atas gugatan sunyi generasi milenial dan Gen Z Bali. Sebuah generasi yang tumbuh besar dengan tumpukan pertanyaan teologis dan ritual, namun sering kali terbentur oleh jawaban klasik: “Nak mula keto” (memang dari sananya begitu).

Forum bedah buku ini tidak tampak seperti seminar akademis yang kaku, melainkan sebuah reuni spiritual-ilmiah. Sederet tokoh penting tampak hadir dan menyimak dengan saksama, mulai dari Ida Dalem Semaraputra (Puri Klungkung), A.A. Bagus Djelantik (Puri Ageng Karangasem), dr. Anak Agung Martha Sp.OG (Puri Nyalian), hingga tokoh nasional Dr. I Gede Subawa, M.Kes., AAK, dan dr. Wayan Mustika.

Ketegangan intelektual langsung mencair ketika pembedah pertama, Ida Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, memberikan testimoni yang membuat seisi ruangan terhenyak.

“Dalam berbagai teks Usadha, kemampuan menyembuhkan diri sendiri itu memang ada. Saya sendiri pernah membuktikannya,” ujarnya dengan suara tenang namun berwibawa.

Beliau menceritakan pengalamannya bertahan hidup setelah jatuh dari ketinggian tujuh meter yang mengakibatkan tulang servikalnya patah hingga mengalami kelumpuhan. Di masa-masa kritis itu, aksara suci Usadha menjadi media penyembuhannya. Kesaksian ini menjadi jangkar pembuka bahwa Usadha Bali bukanlah sekadar dogma, melainkan sebuah teknologi penyembuhan yang nyata.

Dokter Ngurah, yang juga akademisi di Fakultas Kedokteran Universitas Mahasaraswati Denpasar, menegaskan bahwa penulisan buku ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur, bukan sebuah penolakan.

“Kita sebagai milenial tidak mau menerima budaya nak mula keto. Jadi kami mencoba mencari dasar ilmiah dari apa yang sudah dilakukan leluhur kita,” ungkap Dokter Ngurah lugas.

Menurutnya, misteri ritual Bali kini mulai terpecahkan berkat lompatan teknologi kedokteran modern. Titik temu antara Usadha Bali dan kedokteran barat kini termanifestasi secara kuantitatif dalam regenerative medicine (kedokteran regeneratif).

Dokter Ngurah merinci bagaimana sains modern kini mampu membuktikan hal-hal yang dahulu dianggap mistis: Meditasi terbukti secara klinis mampu menurunkan kadar stres oksidatif dalam sel, Melukat (ritual pembersihan diri dengan air) bekerja aktif melalui modulasi sistem saraf otonom dan Pebayuhan (ritual siklus kelahiran) ternyata menyentuh jalur epigenetik manusia.

Dua begawan sains yang hadir sebagai pembedah memberikan legitimasi kuat pada buku ini. Prof. Dr. dr. I Made Jawi, M.Kes, menilai The Oracle of Usadha sukses meletakkan fondasi yang solid agar pengobatan tradisional Bali dapat diintegrasikan secara resmi ke dalam sistem kesehatan masyarakat—bukan lagi sebagai alternatif pelengkap, melainkan kontributor utama yang mekanismenya bisa diverifikasi di laboratorium.

Sementara itu, Prof. apt. Dr. rer. nat. I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si, menyoroti aspek yang lebih makro. Bagi Prof. Gelgel, buku ini memberikan “peta aksiologi” sebuah panduan nilai yang krusial bagi para praktisi medis masa depan saat harus mengambil keputusan di persimpangan antara Usadha dan evidence-based medicine (kedokteran berbasis bukti), khususnya dalam menyambut era medical wellness di Bali.

Apresiasi juga datang dari penonton. I.B. Ketut Kiana, tokoh masyarakat asal Sanur, mengaku bangga dengan keberanian penulis. “Yang dulunya hanya berdasarkan warisan dan keyakinan, sekarang dijelaskan dan dibuktikan secara ilmiah,” pujinya.

Saat matahari sore Denpasar mulai meredup di balik jendela Praja Sabha, diskusi malam itu justru kian menghangat. Dokter Ngurah menutup forum dengan satu harapan visioner: agar buku ini menjadi pemantik diskusi antargenerasi, sehingga krama Bali dapat menjalankan budayanya bukan lagi sebagai formalitas atau gugon tuwon, melainkan dengan pemahaman yang menghujam dalam.

Hari itu, Bali tidak sedang meninggalkan masa lalunya, melainkan sedang menjemput masa depannya lewat sains.(esf/Ndr/Oke)

Related posts