Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
SEPUTAR KALTIM

Jelai Kaltim Dinilai Punya Nilai Ekonomi Tinggi, Berpotensi Jadi Komoditas Pangan Unggulan

Kompak.id, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kembali menyoroti potensi jelai atau jelay sebagai salah satu komoditas pangan lokal yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang sejak lama digunakan masyarakat adat dalam ritual tradisional ini dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara komersial, terlebih karena sudah menembus pasar ekspor dengan harga premium.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasih, menyampaikan bahwa jelai yang banyak ditemukan di kawasan Loa Kulu bukanlah sekadar tanaman tradisional. Kandungan nutrisinya yang tinggi serta manfaat kesehatannya telah diteliti secara ilmiah, sehingga membuka peluang untuk masuk ke pasar pangan fungsional.

“Saya mengembangkan jelai itu sejak lama. Di kampung sering disebut ‘hanjeli’ karena bentuknya mirip manik-manik. Kandungan nutrisinya luar biasa, dan ini pangan lokal yang sebenarnya sudah lama ada,” ungkapnya, Rabu (3/12/2025).

Kosasih menjelaskan bahwa jelai bahkan telah digunakan sebagai bahan makanan premium di Jepang.

“Di Jepang harganya bisa Rp400.000 sampai Rp450.000 per kilogram. Di sana itu dipakai untuk menu premium seperti sashimi dan sushi,” jelasnya.

Ia juga menyebut telah membudidayakan jelai di berbagai daerah, mulai dari Bogor, Kaltim, hingga Kalteng, dan hasilnya cukup menjanjikan.

“Dulu saya kemas seperempat kilo, jual Rp25.000, dan laku. Bahkan ada profesor yang rutin makan jelai dan gula darahnya membaik,” ujarnya.

Dalam literatur botani, jelai dikenal memiliki beberapa jenis. Varietas Coix lacryma-jobi var. ma-yuen merupakan jenis pangan yang bijinya dapat dikonsumsi, sementara Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi umumnya dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan, manik-manik, hingga perlengkapan ritual adat. Secara agronomis, jelai termasuk tanaman tahan kekeringan, cocok untuk lahan suboptimal, dan memiliki siklus tanam yang relatif singkat yakni 4–5 bulan.

Di negara Asia Timur seperti Cina, Korea, dan Jepang, jelai telah lama menjadi bagian dari pangan fungsional. Kandungan karbohidrat kompleks, serat tinggi, protein nabati, serta senyawa bioaktif seperti coixenolide menjadikan tanaman ini populer untuk menjaga kesehatan pencernaan, menurunkan gula darah, hingga meningkatkan imunitas.

Secara global, jelai berkembang dalam berbagai produk olahan modern seperti tepung jelai, mie jelai, bubur instan, minuman beras jelai, hingga produk granola dan pangan fermentasi. Pasar pangan sehat Asia dan Eropa menjadi konsumen utama komoditas ini.

Kosasih menilai Kaltim memiliki peluang besar untuk mengembangkan jelai sebagai komoditas unggulan daerah, terutama melalui kebijakan hilirisasi pertanian sebagaimana ditegaskan dalam arah kebijakan Jospol. Program tersebut mendorong diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah komoditas lokal, serta penguatan kesejahteraan petani.

Ia mengingatkan bahwa jelai sebenarnya bukan barang baru dalam budaya lokal. Dalam beberapa upacara adat Dayak, termasuk ritual Hudoq, jelai menjadi bahan utama dalam hidangan tradisional. Namun menurutnya, generasi muda kini mulai melupakan pangan tersebut.

“Sekarang generasi muda mulai lupa. Ini yang harus kita kenalkan lagi,” ujarnya.

Lebih jauh, Kosasih menyebut jelai memiliki ruang pengembangan yang luas, mulai dari program kemandirian pangan desa, diversifikasi konsumsi, hingga industri kuliner kreatif.

“Potensi kita banyak. Ada jelai, pisang kepok, singkong, jagung. Kalau dikelola serius, kita tidak perlu bergantung penuh pada beras. Jelai bisa jadi alternatif pangan unggulan,” tuturnya.

Ia berharap komoditas jelai mendapat dukungan lintas sektor agar benar-benar menjadi bagian dari strategi pembangunan pangan Kaltim dan memperkuat sektor pertanian sesuai arah kebijakan Jospol.

“Ini pangan lokal kita. Dan ini bisa jadi peluang ekonomi besar bagi petani,” pungkasnya.(Ain)

Related posts