Hari Ini 16 Kades di Kukar, Kemendes, Sawit Watch dan PT REA Kaltim Bertemu

Admin21 16-Okt-21 03:01:04 Kategori Berita Utama, Pemerintahan Dibaca 73 Kali

Kompak.id, Tenggarong -  “Menindaklanjuti hasil rapat secara virtual yang dilaksanakan antara Sawit Wach Bersama Dinas PMD, Abdesi dan Kepala Desa  di Kecamatan Kembang Janggut dan Kecamatan Tabang, Pada tanggal 31 Agustus 2021 yang lalu maka dengan ini kami mengundang guna fasilitasi dan Audiensi,” kata Kepala Bappeda Kutai Kartanegara, Wiyono dalam surat undangannya bernomor: P. 121/BAPP/III.2/005/10/2021 tertanggal 12 Oktober 2021.

 

Undangan bersifat penting tersebut melampirkan sejumlah peserta audiensi, selain Camat Kembang Janggut, Kenohan dan Tabang, Wiyono selaku Kepala Bappeda juga mengundang 16 kepala desa (kades) di tiga kecamatan tersebut.

 

Audiensi yang direncanakan dilaksanakan di Kantor Bappeda Kutai Kartanegara pada hari ini, Sabtu (16/10/2021) selain mengundang NGO/LSM Sawit Watch juga mengundang PT REA Kaltim Plantations yang beberapa bulan terakhir berpolemik dengan belasan kades terkait tanggung jawab perusahaan.

 

16 Kades yang diundang dalam audiensi tersebut yakni Kades Genting Tanah, Kades Loa Sakoh, Kades Hambau, Kades Kelekat, Kades Bukit Layang, Kades Muai, Kades Perdana, Kades Long Beleh Haloq, Kades Pulau Pinang, Kades long Beleh Modang, Kades Kembang Janggut, Kades Gunung Sari, Kades Kampung Baru, Kades Tuana Tuha, Kades Kahala, Kades Teluk Bingkai.

 

Sebagaimana telah dikabarkan sebelumnya, guna menuntut janji-janji PT. REA Kaltim Plantations yang tak kunjung terealisasi, 13 bumdes di tiga kecamatan (Tabang, Kembang Janggut dan Kenohan) membentuk konsorsium dengan nama Bumdesma Belayan Bersatu pada Jumat (24/9/2021) lalu. Tujuannya agar PT. REA Kaltim Plantations melibatkan bumdes dalam kegiatan ekonomi sebagaimana SKB (Surat Keputusan Bersama) Lima Menteri tentang kerja sama bumdes dengan pihak swasta.

 

Kades Genting Tanah, Kasman menilai, PT. REA Kaltim yang menghadapi tuntutan pemerintah desa dan masyarakat makin menggunakan arogansinya sebagai perusahaan internasional. Dengan modal finansial yang besar, perusahaan dianggap melakukan tindakan represif dan menciptakan konflik di tengah masyarakat.

 

“Sekarang pihak manajemen PT REA Kaltim sudah memulai cara mereka dengan  kekuasaan dan kekuatan finansial serta menggunakan alat negara yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat. Masyarakat akan diadu, ditakut-takuti dengan puluhan Brimob lengkap dengan senjata seolah-olah musuh sudah nyata ada di depan mata,” papar Kasman kepada media ini beberapa waktu lalu. (woy)

Related Post