Sosialisasi Pupuk Bersubsidi di Kukar, Budisatrio: DPR RI Bentuk Panja

Admin21 13-Okt-21 20:16:56 Kategori Berita Utama, Nasional Dibaca 79 Kali

Kompak.id,  Tenggarong - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Budisatrio Djiwandono menghadiri dan membuka kegiatan sosialisasi subsidi pupuk dan kartu tani kepada ratusan petani di Kutai Kartanegara (Kukar), Kalomantan Timur, Rabu (13/10/2021). Dalam sosialisasi yang dilakukan di Tenggarong itu, Budisatrio mengatakan, masih banyak petani di Kaltim yang belum menerima kartu tani.

"Ini (sosialisasi) bimtek-bimtek kerja sama dari berbagai Direktorat Jenderal di Kementerian Pertanian. Hari ini saya sungguh spesial. Karena akan membahas masalah pupuk. Masih banyak yang belum mendapatkan kartu tani," kata Budisatrio Djiwandono menjelaskan.

Terkait pupuk bersubsidi, Budisatrio  menjelaskan, antara produksi dan permintaan tidak seimbang.

"Masalah pupuk bersubsidi dari sisi permintaan dengan produksi bagimanapun tidak seimbang. Sehingga pupuk bersubsidi akan selalu langka," ujarnya.

Sebagai Ketua Panja Pupuk Bersubsidi di DPR RI, legislator asal Gerindra tersebut menemukan ketidakakuratan denda terkait kebutuhan pupuk.

"Saya Ketua Panja Pupuk Bersubsidi, kami sudah pelajari dari hulu sampai hilir. Banyak data yang tidak sinkron dan ini yang jadi masalah. Komponen pupuk merupakan komponen penting, negara harus hadir. Mudahan panja dua bulan selesai dan dapat memberikan rekomendasi," katanya melanjutkan.

Selain urea dan NPK menurut legislator dapil Kalimantan Timur itu, ke depan harus dikembangkan pupuk organik. Disebutkan Budisatrio, anggaran pupuk bersubsidi sendiri selama ini hanya terealisasi Rp25 triliun sampai Rp30 triliun.

"Permintaan pupuk subsidi Rp70 triliun per tahun. Pupuk bersubsidi harus diterima oleh petani yang berhak," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Ariana Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim. Ia mengatakan, karakteristik lahan pertanian di Kutai Kartanegara untuk digunakan memerlukan zat kapur untuk menetralisir keasamannya.

"Kalau produksi pertanian menurun yang paling dipermasalahkan pupuk, pupuknya langka, pupuknya mahal. Padahal tidak hanya itu tapi sebelum pupuk tanah itu perlu kapur," ungkap Ariana. (woy)

Related Post