Kepada Nelayan di Desa Sungai Mariam, Budisatrio Tegaskan Tetap di Komisi IV DPR RI

Admin21 13-Okt-21 03:38:09 Kategori Politik, Ekonomi dan Bisnis, Pemerintahan Dibaca 102 Kali

Kompak.id, Tenggarong – Kalimantan Timur yang kaya akan sumber daya alamnya harus dikelola secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat. Sudah saatnya Kalimantan Timur tidak bergantung pada sumber daya alam mineral yang dikeruk terus-menerus dan berdampak pada kerusakan lingkungan. Kekayaan alam di Kalimantan Timur harus dilindungi dengan pengelolaan dan pemanfaatan yang bertujuan untuk menciptakan ketahanan pangan daerah. Alasan tersebut dikemukakan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, G Budisatrio Djiwandono sehingga ia tetap bertahan di komisi yang membidangi pertanian, kelautan, kehutanan juga lingkungan hidup. 

“Kaltim tidak selamanya bertumpu pada sumber batubara. Saya tetap di Komisi IV karena saya percaya di balik sektor kelautan, perikanan ditambah pertanian ada potensi yang besar. Saya ingin melindungi itu semua,” kata Budisatrio Djiwandono saat menemui warga dan nelayan di Desa Sungai Mariam Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Selasa malam (12/10/2021). 

Anggota legislatif dari daerah pemilihan Kalimantan Timur itu mengakui, telah terjadi kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam. Namun, kerusakan alam tersebut tidak sebanding dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnnya.

“Perjuanga saya untuk melindungi, memperbaiki, merehabilitasi hutan, ekosistem laut. Kita kembalikan ke masyarakat untuk mengelola secara baik dan secara luas mengembangkan lapangan kerja untuk masyarakat Kaltim dari sektor perkebunan, kelautan dan kehutanan,” kata Budisatrio menjelaskan. 

Masyarakat di pesisir Kutai Kartanegara, kata dia, merupakan masyarakat nelayan yang mengantungkan nasibnya pada sumber daya kelautan. Sehingga kebutuhan peralatan nelayan harus menjadi perhatian pemerintah.

“Kementrian Kelautan dan Perikanan juga banyak program perikanan tangkap. Saya lihat di Kaltim banyak khususnya di pesisir. Harusnya tahun ini ada 10 sampai 15 perikanan tangkap. Tahun ini hanya lima. Perikanan tangkap banyak sekali kendalanya untuk kapal tangkap. Pembeliannya banyak bermasalah sehingga pengadaannya belum bisa secara massif,” sebut Budi.

Dengan begitu, politisi Gerindra tersebut bertekad akan memperjuangkan kepentingan nelayan melalui sejumlah program.

“Modernisasi pelabuhan, dan pasar ikan yang akan direhabilitasi melalui Kementrian Kelautan. Saya percaya Kaltim ke depan harus bertumpu pada potensi Kaltim. Tekadang realissi dari Kementerian Kelauatan ini sangat sulit. Artinya saya harus bekerja lebih keras lagi untuk meyakinkan mereka,” ujar Budi menegaskan. 

Budisatrio yang datang didampingi anggota DPRD Kaltim Achmed Reza Fachlevi itu mengaku heran dengan pembangunan di Kalimantan Timur, terutama di Kutai Kartanegara.

“Perusahaan migas, batubara terbesar ada di Kaltim, tapi masyarakatnya di desa belum dialiri listrik, air bersih belum tercukupi. Saya sebenarnya miris karena menurut saya itu tidak logis. Termausk urusan telekomunikasi,” katanya. 

Meski begitu, dengan potensi yang tidak hanya kelautan, Kalimantan Timur menurutnya akan mampu menjadi daerah produsen pangan.

“Saat ini seperti kebutuhan pokok didatangkan dari luar Kaltim seperti beras, gula, daging sapi. Ke depan dengan perencanaan yang baik kita dapat bangun ketahanan pangan di Kaltim,” tegasnya memungkasi. (woy)

Related Post