Soal Limbah PT REA Kaltim, Belasan Kades Ragukan Kinerja BLHDK Kukar

Admin21 06-Sep-21 23:55:58 Kategori Berita Utama, Hukum, Kesehatan, Ekonomi dan Bisnis Dibaca 221 Kali

Kompak.id, Tenggarong – Laporan sedikitnya 13 kepala desa (kades) terkait limbah perusahaan kelapa sawit PT. REA Kaltim Plantations yang diduga mencemari sungai-sungai di wilayah operasi perusahaan di Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara (Kukar) ditanggapi pesimistis.

Terdapat tiga pabrik kelapa sawit yang dioperasikan PT.REA Kaltim, dua di antaranya yakni Perdana Oil Mill (POM) dan Cakra Oil Mill (COM) yang dilaporkan dua kepala desa (kades) di Kembang Janggut karena diduga mencemari sungai-sungai mereka terutama Sungai Belayan.

Berdasarkan permintaan dari Dinas Lingkugan Hidup (DLH) Kukar, pemerintah desa telah membuat laporan resmi perihal dugaan pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik kelapa sawit POM dan COM. Meski begitu, laporan tersebut tidak akan direspons oleh DLH seperti harapan masyarakat selama ini agar Pemkab Kukar tegas terdahap perusahaan yang merusak lingkungan.

“Sudah (lapor). Hanya kita menunggu hasil. Kami rasa DLHD bisa-bisa menganggap tidak tercemar, itu perkiraan kami. Karena beberapa kali selalu begitu, sehingga kami akan melakukan pengecekan sendiri melalui uji layak nantinya sebagi pembanding agar akurasi data maupun hasil bisa dipertanggungjawabkan,” ungkap Kades Kembang Janggut, Yadi kepada media ini, Senin (6/9/2021).

Hal serupa juga disampaikan Kades Genting Tanah Kecamatan Kembang Janggut, Kasman. Menurutnya, pabrik kelapa sawit milik PT REA Kaltim Plantations selama ini telah berlaku serampangan dalam membuang limbah.

“Sembrono membuang limbah sawit, kalau hujan meluap turun ke sungai di bantaran Belayan. Hal ini sudah sering dilaporkan tapi tidak pernah ada penindakan. Paling-paling kalau DLH datang nanti diperbaiki (sementara),” kata Kasman menjelaskan.

Limbah yang diduga mencemari sungai Belayan tersebut kerap terjadi, dampaknya kata Kasman, penyakit kulit sangat dirasakan warga setempat. Sehingga 16 kades yang tersebar di Kecamatan Kembang Janggut, Tabang dan Kenohan berharap DLH Kukar bertindak serius dengan menjalankan peraturan yang berlaku.

“Ikan-ikan mati, dampak yang agak lama pohon dan tumbuhan mati. Kalau yang dirasakan warga ya gatal-gatal itu. Kami berharap ini diseriusi,” kata Kasman menegaskan.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Lingkugan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Alfian Noor yang dikonfirmasi sejak empat hari lalu sampai saat ini tidak memberikan tanggapan. (woy)

Related Post