Penyemprot Disinfektan dari Dadi Mulya Indonesia

Abdul Rahman 29-Jun-21 19:22:35 Kategori Olahraga, Inspirasi Dibaca 263 Kali

Kompak.id, Samarinda - Motor metik itu melaju menyusuri jalanan kota yang mulai padat, puluhan kali menyalip motor lain saat ada kesempatan, juga tidak jarang mobil yang kecepatannya terhalang kendaraan-kendaraan di depannya. Setiap hari, untuk segera sampai di tempat tujuan, pria itu harus memperhitungkan waktu tempuh perjalanannya agar tugasnya selesai tepat waktu. Sekira 30 menit menembus kemacetan Kota Samarinda, Nurani tiba di sebuah pos komando yang berada di Kelurahan Dadi Mulya, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda. 

Bergegas ia memakirkan sepeda motornya. Kemudian dengan cekatan mengambil satu setel pakaian pelindung diri yang telah disiapkan kemudian ia kenakan. 

Nurani bersama puluhan rekannya merupakan anggota dari satuan relawan kemanusiaan Dadi Mulya Indonesia (DMY Indonesia). Terbentuk sejak 1 Maret 1997, anggota DMY bertekad membantu masyarakat tanpa uang imbalan. 

Dengan pakaian pelindung diri yang telah membungkus dari ujung kepala sampai kakinya, pria yang bernama lengkap Nurani Busrani itu lalu sibuk menakar sejumlah bahan untuk dijadikan larutan disinfektan. Dirasa sudah, Nurani menuangkan seluruh larutan itu ke dalam tangki semprot berpompa dan menggantungkannya di punggung layaknya tas ransel. 

Bersama sejumlah rekannya, Nurani yang berpostur tegap itu memulai penyemprotan, kali ini saat hari libur, Minggu (27/06/2021) disebuah permukiman yang baru saja seorang warganya terkonfirmasi Covid-19. Memang menjadi bagian dari relawan penanggulangan virus Corona tidaklah mudah. Terlebih saat bertugas, resiko tertular penyakit ini pun bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Nurani sabgat sadar akan hal itu termasuk keluarganya di rumah. 

"Sehari kami menyemprotkan maksimal lima kali," kata Nurani yang mengaku lahir di Banjarmasin pada 3 Februari 1975. 

Nurani memiliki moto "Satu Hati Menuju Kebaikan, Satu Mimpi Menuju Kebaikan, Satu Aksi Wujudkan Kebaikan"

Satuan relawan yang dikomandoi Nurani ini tak tergabung di organisasi resmi seperti Gugus Tugas COVID-19 bentukan pemerintah. 

Saat bertugas, Nurani mengaku mengenakan pakaian pelindung diri sangat tidak nyaman. Selain udara yang kurang untuk bernafas, juga suhu tubuh cepat memanas yang berakibat pada dehidrasi. 

"Keringat bercucuran sepanjang pakai APD. Bernapas juga terganggu karena pakai masker dan face shields. Jadi saya tahu gimana (capainya) para dokter dan perawat itu saat bertugas," Jelas suami dari Sinta ini. 

Nurani Busrani pun mengaku, semangat berelawannya ini telah dia salurkan sejak Maret 2019 lalu. Sampai saat covid mewabah, Busrani bersama teman-temannya belum memiliki rencana lain. 

"Saya tidak punya rencana kapan berakhir. Mengalir saja sebisa dan sekuatnya saya dan teman-teman," ungkap ayah tiga anak ini. 

Semangat yang dimiliki Nurani dan rekan-rekannya patut ditularkan kepada generasi milineal sekarang. Sebab spirit kemanusiaan tersebut akan menjadi modal sosial yang tidak ternilai apapun. 

Satuan relawan yang memiliki keikhlasan seperti Nurani Busrani hanya berharap ridlo sang pencipta, selain sebagai pengabdian diri pada negeri terkhusus bumi etam Kalimantan Timur. (Oke) 

Related Post