Kompak.id, Samarinda — Komoditas pisang Kepok Gerecek asal Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan nilai ekonomi tinggi hingga menarik perhatian pasar ekspor. Namun, ironi muncul karena pisang tersebut belum tercatat sebagai produk hilirisasi Kaltim, melainkan hanya sebagai pasokan bahan baku mentah untuk daerah lain, terutama Jawa Timur.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kaltim, Kosasih, menyebut bahwa pisang Kepok Gerecek kini menjadi primadona di sentra pertanian rakyat. Sentra utamanya berada di Kutai Kartanegara, Paser, dan Kutai Barat dengan luasan mencapai kurang lebih 7.000 hektare.
“Produksi pisang kita stabil, bahkan menjadi komoditas unggulan nasional. Tetapi kita hanya memasok bahan mentah ke luar daerah, bukan produk jadi,” ujarnya, Sabtu (6/12/2025).
Menurut Kosasih, pisang Kepok Gerecek dari Kaltim rutin dikirim menggunakan kontainer ke pelabuhan Jawa Timur, kemudian diekspor ke sejumlah negara Asia. Namun, pencatatan ekspor tidak atas nama Kaltim.
“Pisangnya ekspor, tapi bukan atas nama kita. Nilainya tercatat di provinsi lain. Kaltim hanya mengirim bahan baku,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi peringatan agar Kaltim tidak hanya menjadi pemasok mentah selamanya. Salah satu langkah penting yang didorong adalah pembangunan industri di sentra desa penghasil pisang, bukan di kota, agar petani menjadi bagian dalam rantai nilai hilirisasi. Langkah tersebut selaras dengan poin pertama Jospol Kaltim tentang hilirisasi industri pertanian melalui peningkatan produktivitas berbasis pertanian modern.
Kosasih juga menyebut bahwa peningkatan kapasitas hilirisasi akan memberi ruang besar bagi UMKM desa. Menurutnya, pisang Kepok Gerecek sangat berpotensi menjadi tepung pisang, keripik, hingga makanan olahan modern yang dapat dipasarkan secara digital. Hal ini mendukung poin keempat Jospol yang mendorong ekonomi inklusif berbasis ekonomi kreatif dan digital.
Ia percaya bahwa jika pemerintah daerah mampu membangun industri desa dan memberikan kemudahan investasi sebagaimana tercantum dalam poin kesembilan Jospol, maka Kaltim tidak hanya menjadi pemasok mentah, tetapi turut menikmati nilai tambah ekspor.
“Kita bisa menjadi pusat hilirisasi, bukan hanya gudang bahan baku. Nilai ekonomi terbesar harus dinikmati petani Kaltim,” tutupnya. (Adv/Ain/Diskominfo Kaltim)
