Kompak.id, Samarinda — Upaya hilirisasi pertanian di Kalimantan Timur kembali menemukan momentumnya. Pembangunan kabel way pengangkut pisang di Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur, yang mulai beroperasi pada 2024, menjadi sinyal nyata bahwa daerah ini disiapkan untuk masuk ke rantai industri bernilai tambah sebagaimana arah program Jospol Kaltim: hilirisasi pertanian, teknologi agroindustri, dan penguatan ekonomi desa.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Kosasih mengatakan pembangunan kabel way sepanjang 560 meter yang sebelumnya ditarget 3.000 meter langsung memudahkan petani dalam mengangkut hasil panen pisang dari kebun ke titik pengumpulan.
Ia menegaskan bahwa aksesibilitas adalah hambatan klasik petani, dan infrastruktur sederhana seperti ini memberi dampak langsung pada efisiensi biaya dan waktu.
Menurut Kosasih, Kaliorang memiliki potensi besar yang sudah lama diperhatikan pelaku industri global.
“Orang Nestlé aja udah datang ke sini ke saya itu. Mau bikin pabrik untuk makanan bayi SUN, pisang kepok kita ini cocok untuk makanan bayi,” katanya, Kamis (4/12/2025).
Kunjungan Nestlé dilakukan pada 2023, termasuk survei lokasi, sumber pisang, dan akses pendukung. Namun rencana investasi terhambat oleh hasil feasibility study, terutama soal kualitas air baku yang dianggap tidak memenuhi standar proses pencucian tepung.
“Airnya banyak asamnya. Jadinya kualitas tepung merah, bukan putih. Kalau putih itu bisa bersaing dengan tepung lainnya,” ujar Kosasih.
Ia menjelaskan, perusahaan menilai biaya produksi akan melonjak bila harus mengolah ulang air dengan mesin penyulingan. Industri hanya bisa masuk jika tersedia sumber air baku yang kualitasnya mendekati standar PDAM yang jernih, stabil, dan rendah kandungan asam.
“Kaltim ini sebenarnya airnya kurang begitu bagus,” tambahnya.
Meski demikian, Kosasih menyebut ada sumber air gunung berkualitas baik di Selangkau, Kutai Timur, kawasan yang kini juga menjadi lokasi pabrik semen. Namun lahan di wilayah itu sebagian besar telah dimiliki masyarakat, sehingga pembebasan lahan berpotensi menambah biaya bagi investor.
Kosasih berharap pemerintah provinsi dapat memberi dukungan agar rencana investasi pisang ini kembali difollow up.
“Saya kepenginnya begitu. Kuncinya di gubernur. Kalau investasi semacam itu jadi, petani kita pasti enggak bingung lagi jual pisangnya. Ada yang pasti beli,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemasaran adalah persoalan paling mendesak bagi petani pisang. Kelebihan pasokan kerap membuat petani merugi. Karena itu, hilirisasi melalui pembangunan industri tepung pisang sejalan dengan program Jospol yakni hilirisasi pertanian, ekonomi inklusif, dan penguatan industri pangan dipandang sebagai solusi yang mampu membuka lapangan kerja perdesaan serta meningkatkan daya saing ekspor.
Kabel way yang kini beroperasi di Kaliorang menjadi langkah awal untuk menata rantai pasok. Infrastruktur ini dinilai strategis karena langsung menyentuh kebutuhan petani, sekaligus memperkuat daya tawar wilayah ketika kembali bernegosiasi dengan investor besar.
“Kaliorang telah menunjukkan bahwa Kaltim tidak hanya kuat di batubara dan migas, tetapi juga bisa menjadi sentra agroindustri modern bila didukung kebijakan investasi yang serius,” tutupnya. (Adv/Ain/Diskominfo Kaltim)
