Kompak.id | Komunikatif, Profesional & Kredibel
BERITA UTAMA POLITIK SEPUTAR KALTIM

Gamalis Dorong PPP Kaltim Bertransformasi Jadi Partai Anak Muda

Kompak.id, Samarinda — Geliat pemilih anak muda yang menunjukkan persentase tertinggi dalam kontestasi politik 2029 mendatang terus menuai perhatian berbagai pihak, terutama jajaran partai politik yang kini berlomba melakukan transformasi agar mampu mengakomodasi segmen pemilih muda tersebut.

Tak terkecuali Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sebagai salah satu partai senior di Indonesia, PPP terus berupaya beradaptasi agar tetap relevan di tengah dominasi generasi Z dan milenial dalam struktur pemilih nasional.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Kalimantan Timur, Gamalis, menegaskan partainya harus segera bertransformasi menjadi partai yang ramah terhadap generasi muda, khususnya generasi Z yang kini mendominasi basis pemilih.

“Kalau PPP tidak berubah dari sekarang, kita akan ditinggal generasi masa depan. Anak muda harus merasa partai ini adalah rumah mereka,” ujar Gamalis, Rabu (4/2/2026).

Mengacu pada data Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, pemilih generasi milenial dan generasi Z pada Pemilu 2024 mencapai sekitar 60 persen dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) nasional yang berjumlah lebih dari 204 juta pemilih. Komposisi serupa juga tercermin di Kalimantan Timur.

“Kalau kita masih memosisikan diri sebagai partai orang tua, partai kopi, kita akan tertinggal. Gen Z sekarang bukan lagi pemilih pemula, tapi sudah pemilih aktif,” paparnya.

Sebagai langkah kongkrit, Gamalis menyebut PPP Kaltim kini mewajibkan seluruh kader dan pengurus memiliki akun media sosial aktif, baik Instagram, TikTok, Facebook, maupun platform lainnya, sebagai sarana komunikasi politik dan penyampaian program ke publik.

“Kalau tidak bisa mengelola sendiri, boleh anaknya atau timnya yang jadi admin. Tapi harus punya. Kalau mau jadi anggota DPR lagi, harus adaptif,” katanya.

Namun, Gamalis menegaskan modernisasi partai tidak boleh menghilangkan jati diri PPP sebagai partai berbasis pesantren, masjid, dan ulama.

“Kita boleh modern, tapi tidak boleh meninggalkan akar. PPP lahir dari umat, dari pesantren, dari masjid. Itu tidak boleh ditinggalkan, melainkan diselaraskan,” terang Gamalis.

Ia berharap transformasi ini mampu mengembalikan kepercayaan pemilih muda sekaligus memperkuat basis tradisional PPP di Kalimantan Timur. (Ain)

Related posts