Kompak.id, Samarinda – Dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan seorang Duta UINSI Samarinda sekaligus Duta DPD RI berinisial F terus mengemuka setelah sejumlah kesaksian mahasiswi muncul melalui media sosial. Akun Instagram @miaew.wy menjadi salah satu yang pertama mempublikasikan cerita para korban, yang disebut berasal dari Samarinda, Tenggarong, hingga Jakarta.
Informasi yang beredar menunjukkan pola dugaan tindakan yang beragam, mulai dari ajakan menginap di hotel hingga kunjungan ke kediaman korban. Sejumlah mahasiswi yang mengaku mengalami perlakuan serupa mulai menyampaikan pengalaman masing-masing secara terbuka.
Salah satu yang memutuskan bersuara adalah FF (20), mahasiswi UINSI Samarinda. Ia membenarkan bahwa dirinya termasuk di antara korban dugaan pelecehan yang dilakukan F. FF menuturkan bahwa dirinya dan F berada dalam komunitas organisasi yang sama, yaitu kelompok duta kampus, namun tidak memiliki hubungan khusus selain relasi sebagai sesama anggota.
FF menegaskan bahwa peristiwa yang dialaminya terjadi saat kegiatan Expo Fasya 2024. Pada kesempatan itu, F disebut berulang kali berupaya melakukan kontak fisik tanpa persetujuannya, bahkan ketika keduanya masih berada di lokasi yang ramai. Menurut FF, beberapa rekan sempat melihat upaya tersebut.
Dalam momen berbeda pada acara yang sama, FF menyebut F kembali melakukan tindakan tidak pantas dengan mencoba mencium dirinya, sebelum akhirnya seorang rekannya menegur dan mendorong F menjauh. FF mengaku merasa malu sekaligus tertekan karena insiden terjadi di hadapan banyak anggota duta lainnya.
Usai kejadian, FF mengatakan dirinya telah melapor kepada salah satu pejabat pembina organisasi. Namun respons yang ia terima dinilai tidak memberikan dukungan yang semestinya. “Saya datang untuk meminta solusi, tapi respons yang saya dapat tidak sesuai dengan kondisi saya. Bahkan saya merasa diserang balik,” ujar FF, Selasa (2/12/2025).
Ia menambahkan bahwa setelah berusaha menyampaikan kejadian tersebut, dirinya justru menerima tekanan dan tudingan bahwa ia bermaksud merusak nama baik F. “Karena F ini sangat terkenal di kampus, reputasinya sangat baik,” jelasnya.
FF menyampaikan bahwa laporan yang ia ajukan kini telah masuk dalam penanganan internal kampus melalui Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UINSI. Ia menyebut PSGA telah memanggil sejumlah pihak dan menghimpun keterangan untuk menindaklanjuti kasus tersebut. FF juga telah bertemu pejabat kampus yang membidangi kemahasiswaan, yang menyampaikan bahwa langkah-langkah sesuai prosedur sedang berjalan.
FF berharap kampus mengambil tindakan tegas agar ia dan mahasiswi lain dapat kembali berkuliah tanpa tekanan. “Saya ingin dia dikeluarkan saja, agar saya lebih tenang berkuliah,” jelasnya.
Hingga laporan ini diterbitkan, F masih berstatus sebagai mahasiswa aktif dan tercatat tetap terlibat dalam sejumlah aktivitas duta kampus.
Sementara itu, seiring viralnya kasus ini, sejumlah korban lain mulai ikut muncul dan memberikan keterangan. Beberapa melaporkan adanya tindakan tak pantas berupa pelukan dan ciuman secara paksa. Keterangan lain yang beredar bahkan menyebut dugaan tindakan sudah mencapai tahap persetubuhan.(Ain)
